Surat dari Bunda


Untuk Anakku Tercinta,

Nak, kami sudah dimakan usia. Umur kami sudah tidak lama lagi, kami mohon pada kalian agar bisa memahami dan memiliki kesadaran lebih dalam merawat kami yang kekanak-kanankan ini. Jika suatu ketika kami memecahkan piring, menumpahkan makanan yang sudah susah payah kalian buatkan, membangunkan kalian dimalam hari saat tertidur pulas, atau bahkan merusak barang milik kalian, kami berharap kalian tidak marah pada kami. Orang tua itu perasaanya sensitif, nak. Sekali saja kalian memarahi kami atau hanya meninggikan suara itu sama saja kalian telah menyakiti perasaan kami. Membunuh kami secara perlahan. Jangan bentak kami, Nak!

Nak, ketika pendengeran kami semakin lemah, jangan kalian panggil kami, 'TULI!', kami mohon ulangi saja apa yang kalian katakan itu dengan perkataan yang lebih lembut agar kami bisa lebih menangkap apa yang kalian ucapkan. Atau mungkin kalian bisa menggunakan bolpoin dan selembar kertas untuk berbicara pada kami. Maafkan kami yang renta ini, Nak!

Ketika lutut tidak lagi mampu menopang berat tubuh ini, kami harap kalian dapat membantu kami untuk bangun. Ketika penglihatan ini memudar, kami harap kalian mau mengambilkan sesuatu yang kami minta. Ketika telinga ini semakin lemah pendengarannya, kami harap kalian tidak meninggikan suara. 

Maafkan jika tubuh kami sudah mulai bau tanah. Jangan paksa kami mandi ya, Nak! Tubuh kami sudah tidak kuat terkena air dingin yang menusuk hingga ketulang! Jika kami rewel saat kalian suruh makan, jangan paksa kami. Tapi jangan pula kalian biarkan kami kelaparan, nak! Kami hanya meminta agar kalian lebih bersabar. Bukankah kalian tahu, seorang yang sudah renta sifatnya akan kembali seperti anak-anak lagi? Kami tahu kalian mengerti, sebab kalian sudah diajarkan hal ini disekolah kan, nak?

Ingatkah kalian disaat kalian kecil? Kami yang menemani kalian bermain, mengajarkan kalian cara berjalan, menyuapkan kalian makan, memberi susu, memandikan, bahkan mendengarkan cerita kalian, dan membersihkan kotoran kalian. Mungkin kalian sudah lupakan itu semua, seiring dengan berjalannya waktu tugas-tugas kantor kalian jauh lebih penting daripada kami yang sudah mulai membusuk ini. Maafkan kami yang terkadang mengompol, nak! Jangan jijik dengan kotoran kami. Sebab kami lebih sering membersihkan kotoran kalian.

Kelak, jika kami telah tiada. Jangan lupakan kami, teruslah berdoa untuk kami. Karena, setelah kami pergi menghadap Sang Pencipta, kami akan meminta padaNya, agar kalian selalu dalam lindungan dan mendapatkan berkah karena kalian telah mencintai kami, Ayah dan Bunda kalian. Ingat ya nak, apa yang kalian lakukan kepada kami akan menjadi balasan untuk diri kalian sendiri. Anak-anak kalian nanti akan memperlakukan kalian seperti kalian memperlakukan kami.

Terima kasih, nak! Terima kasih atas setiap butir keringat kalian yang keluar karena mengurus kami. Terima kasih untuk setiap air mata yang jatuh karena kecintaan kalian pada kami. Kami menyayangi kalian lebih dengan kasih sayang yang tiada batas.

Tertanda,
Bunda.

Komentar

  1. gila kak aku mau nangis bacanya :'(

    aku takut saat orangtuaku udah tua, aku lupa diri dan malah jadi ga sabaran saat mengurus mereka. aku juga takut kalo anakku kelak bakal kayak gitu sama aku kak. semoga Tuhan berikan hikmat agar aku bisa jadi anak yang lebih baik, amin :')

    Postnya bermanfaat kak :') Tapi gimana cara kakak nyampekan surat ini ke anak kakak? .-.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Asha sudah mampir :)
      Siapa sih didunia ini yang nggak takut jadi anak durhaka, ya kan? Yang penting kita sadar diri aja dengan segala tingkah selama ini, karena itu juga akan berbalik ke diri kita sendiri. Amin, semoga kita semua mendapat ridhoNya.

      Tulisan ini sebelumnya udah sy tulis diselembar kertas yg disatukan dgn berkas2 penting lainnya. Berharap, anak sy bisa menemukan & membacanya kelak :D

      Hapus
    2. Ehh ketemu adek MBLO di sini.. :bye: hai adek MBLO cantikk..
      menyentuhh banget memang nihh artikel..
      perlu di kasih ke anak2nya nenek saya..
      biar pada ngerti..
      perlu di kasih ke saya juga sihh..

      NICE POST.. KEEP IT UP OTAAAAANNN !!!!!

      Hapus
    3. Cie si om gajah manggilnya adek mblo cantik :P
      Asha, kamu gebetan dia ya? Semoga kalian langgeng.

      Semoga artikel ini bermanfaat bagi semua orang, dan yang terpenting buat kita yang udah membacanya. Dengan maksud, gak telat sadarnya. Oke om makasih yaaa :)

      Hapus
    4. gak usah bikin gosip baruu tan..
      huh..

      Hapus
  2. Menyentuh :)

    Ya Tuhan,,,
    Moga kami semua di berikan
    Kecintaan untuk mencintai orang tua kami,
    Amin :)

    BalasHapus
  3. Setelah baca ini langsung meluk mama~

    BalasHapus
  4. Hai, pertama kali mampir ini, dapet rekomen dari Angga Ong si kriwul.

    Ya ampuuun, saya jadi terharu dan mengusap air mata yg tidak terasa menetes, membayangkan bagaiman bunda saya yang sudah tidak mampu mengurus saya.

    Tapi, saya selalu berusaha membahagiakan Ayah dan Bunda saya. Dan saya setiap hari menemani mereka di rumah mereka, setiap sore sampai malam. (baru saja pulang). Semoga saya tidak pernah bosan.

    Terima kasih untuk suratnya yang mengingatkan saya. :)

    Nice post Kak!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak, terimakasih sudah mampir disini, terimakasih juga buat yang ngerekomendasikan :)

      Semoga ayah dan bunda kita diberikan umur yg panjang dan tubuh yang sehat agar mereka bisa melihat anak2nya sukses, amin.

      Hapus
  5. Wa sedih bacanya :'
    Gatau knp tiap kalimatnya, bikin aku makin takut. Iya bener, takut jd durhaka :/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan