Kawah Putih, Ciwidey

Sebuah perjalanan baru saja dilakukan. Perjalanan dengan dua misi sekaligus, menjadi guide tour untuk mencari titisan surga yang tersembunyi sekaligus mengisi kembali daya kehidupan yang hampir terkikis oleh penatnya aktivitas.

Baiklah, intermezzo dulu. Kali ini kami akan ke sebuah tempat yang berada di Soreang, Ciwidey. Sangat eksotis, mempesona, dan (mungkin) tidak ada ditempat lain. Sudah tahu? Ya, benar. Kami akan ke kawah putih, Ciwidey. Siapa tak tahu tempat ini? Danau kawah gunung patuha. Kalau kau tidak tahu, kusarankan agar secepatnya kau bikin rencana kesana agar kau tak lebih kampungan daripada mereka yang terus membanggakan keagungan wisata negara lain padahal disini, di Indonesia, ada sebuah harta karun.

Akses menuju tempat wisata ini sangat mudah, jalannya sudah bagus, dan jangan khawatir bagi yang naik kendaraan umum, naik bis Bandung – Ciwidey kemudian dilanjutkan naik angkot jurusan Ciwidey – Situ Pantenggang, langsung turun didepan pintu gerbang kawah putih, kok. Sepanjang perjalanan, hamparan sawah - rumah penduduk yang sederhana - pepohonan yang rimbun siap menjadi santapan satu-satunya. Ups, jangan salah, dibeberapa ruas jalan kemacetan siap menyambut.

Untuk menikmati keindahan panorama kali ini, kami harus membayar Rp.28.000 (tiket masuk + ontang anting) per orang. Ontang-anting sudah untuk pulang-pergi, so don’t worry be calm. Tersedia pula tempat parkir didekat kawah putih, untuk mobil Rp.150.000 (bombastis, kan?) dan motor Rp.10.000. Namun, jika parkir didekat pintu masuk cukup membayar Rp.6000 saja. Jangan lupa membawa masker, tapi kalau lupa tenang saja, disana ada yang jual, kok Rp. 5000 dapat 2, cukup mahal! Oh ya, tiket masuk juga berbagai macam. Ada yang rombongan, mancanegara, domestic, ada juga paket pra wedding. Paket pra wedding sekitar Rp. 400.000 – Rp. 500.000. Biaya yang sudah dikeluarkan memang tidak sesuai dengan pemandangan luar biasa yang kita dapatkan. Tapi, cukup untuk pemeliharaan lingkungan.

Kebetulan sekali, siang itu kawah putih diguyur hujan. Udara tambah dingin, perut makin lapar, kami harus nunggu hujan reda supaya pemandangan kawah putih terlihat seutuhnya. Tempat ini memilik daya tarik sendiri, membuat orang-orang yang pernah mengunjunginya ingin segera kembali lagi. Kemanapun bidikan kamera tertuju, selalu terlahir gambar yang membuat takjub. 

"Pak, tolong fotoin saya tapi jangan kelihatan kedinginan ya" -_____-
Sunyi, berwibawa dan penuh misteri, begitu kata sebagian orang. Sunyi – karena letaknya cukup jauh dari peradaban kota, informasi yang kami dapat tempat ini berada 2300 diatas permukaan laut. Berwibawa – karena terlihat jelas goresan tangan Tuhan, Maha Pencipta. Penuh misteri? Entahlah, mungkin karena mitosnya pada zaman dahulu tempat ini sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur, katanya.

“Surga bocor lagi, kawan!” - Ini hanya sepersekian dari surga yang bocor, bagaimana dengan surga yang seutuhnya. Subhanallah! Maha Besar Tuhan dengan segala Kuasanya. 

Angin semakin berhembus pelan, menyampaikan dingin yang kemudian menembus tubuh kami. Masuk kedalam sum-sum, menyelinap dalam pori yang sudah dilapisi jaket tebal. Hembusan angin tadi tidak hanya membawa dingin, tapi juga membawa kabut pekat beraroma belerang. 

Laksana rumah, beratapkan langit, beralaskan tanah, berdinding tebing, menjadi paduan yang sempurna. Disalah satu bagian, pohon-pohon yang tertanam semerawut terlihat tetap elok. Disudut sana, sebuah goa yang kini sudah tak boleh dimasuki, bernama goa Jepang. Mungkin ini tempat orang-orang meregang nyawa, sebab dahulu siapapun yang memasuki tempat ini tidak pernah kembali. Allahu alam! Logikanya, takut runtuh ketika ada gempa dadakan.

Suara bahagia pengunjung terdengar dengan jelas, dimana-mana orang memegang kamera bahkan beberapa kali kami saling meminta tolong untuk difoto. Ada juga yang berinisiatif menggunakan fitur self timer. Barangkali sejam dua jam mungkin tidak akan cukup untuk menikmati tempat ini, tapi apa mau dikata, pengunjung semakin ramai. Apa salahnya memberikan ruang bagi pengunjung yang baru datang, bukan soal kesempatan, mungkin cukuplah sampai disini. 

Remah-remah surga itu ada disana
Kau jangan cemburu jika aku jatuh cinta pada tempat ini. Sebab, bagaimana bisa aku mencintai sebuah karya tanpa mencintai penciptanya. Dan aku percaya, ini bukanlah satu-satunya titisan surga yang Kau titipkan di dunia.

Komentar

  1. Balasan
    1. Cuplikan fotonya aja ya beb :p
      Da ga terlalu banyak juga sih, selfie doang -___-

      Hapus
  2. potonya manaaaaaa, liyat liyat liyaaaaat :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga mau liatin ke ka ideep aaaaah >.< liat aja sendiri, sini makanya ke bandung :p

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan