Diam-Diam Suka

Cuaca siang ini sudah diluar akal manusia, panas sekali. Mungkin kalau akau meletakkan telur dijalan aspal, telur itu akan masak. Bisa jadi. Aku benci kenapa ibu bertekad menyekolahkanku di tanah Khatulistiwa, sudah ku bilang disini panas sekali, aku benci keputusan ibu. Sudah tahu zaman semakin tua, kerusakan ozon dimana-mana, es dikutub mulai mencair disebabkan panas bumi, sekarang aku seperti menyerahkan diri kelubang api.
“Heh, gadis aneh ngapain kau duduk disitu?” teriak seorang laki-laki ke arahku.
“Bukan urusanmu!” jawabku seperlunya.
“Sudahlah, Ris. Jangan isengin orang terus.”
“Udah tau panas, bukannya berteduh malah manggang diri dibawah matahari. Dia pikir ini Eropa kali ya, bisa berjemur…”
Keduanya lalu tertawa lepas.
Aku kesal dengan dua orang murid laki-laki yang baru saja menertawakanku. Siapa sih mereka? Tapi memang benar sih, ngapain juga aku duduk dikursi taman yang tidak ada pohon pelindungnya. Aku bergegas menuju kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Aku tak mau telat.

Didepan persimpangan antara kelas ku dengan laboratorium fisika, lagi-lagi aku bertemu dengan dua makhluk luar angkasa yang resenya kelewatan batas. Dan lagi-lagi mereka menggodaku.
“He, nama kau siapa sih?” tanya seorang diatara mereka yang berpostur agak gendut.
“Nama aku Anggun, nama kau siapa?”
“Kau mau tau namaku, atau nama cowok ganteng yang ada disebelahku?” godanya lagi.
“Hai, aku Basir. Peranakan jawa, ketua osis disini. Baru pertama ini melihatmu, pindahan?” Sungguh, dia memang tampan. Aku hampir saja terkesima, untung saja lelaki gendut itu buru-buru menyentuh bahuku. “Nah, kalau namaku Paris. Sahabat Basir sejak kecil. Kau pindahan dari mana?”
“Aku pindahan dari Balikpapan sejak sebulan lalu. Senang berkenalan dengan kalian..”
Paris dan Basir, dua sahabat yang cocok bagiku. Paris gendut, kancing seragamnya sudah sulit disatukan, dia tampaknya ceria tapi suka iseng. Basir, cowok bertubuh jangkung, bertulang punggung tegap, berwibawa, santai dan mungkin pendiam. Mereka saling melengkapi.
“Sudah lama sebenarnya Basir ini ingin berkenalan dengan kau, dia penasaran dengan kemampuan bahasa inggris kau yang katanya sangat lancar. Kau makan apa dulu waktu kecil?” tanya Paris dengan polos.
Aku tertawa, “Sejak kecil aku makan batu, karena ayahku kuli bangunan.”
“Wah, yang benar. Kalau begitu kau hebat!” puji Basir dengan wajah bersinar seperti ada lampu neon dengan watt tinggi disana.
“Hahaha, aku bercanda kok. Ya sejak kecil aku belajar lah, aku cinta bahasa makanya aku belajar banyak bahasa.” Jelasku. Wajah Basir dan Paris mendadak berubah serius.
“Kau bisa banyak bahasa? Bahasa apa saja?”
“Indonesia, Inggris, Mandarin, Arab, Prancis, Jerman, Jawa, Madura… Bahasa dayak pedalaman…”
“Wow, ini yang kita cari, Sir! Dia bisa mengajarkan kita!!” sekarang giliran aku keheranan, aku tidak mengerti dengan maksud Paris.
“Kalau dibicarakan sekarang sepertinya terlalu buru-buru, gimana kalau nanti sore kami kerumahmu saja, boleh?”
“Oh, boleh saja. Rumahku di Purnama nomor 2.”
“Kalau Basir yang nanya alamat langsung dikasih ye? Jangan-jangan kau naksir dia ya?” lagi-lagi dan lagi, Paris menggodaku. “Ah sudahlah, aku mau kekelas dulu.” Kataku.
    “Oke, makasih ya, Nggun!” teriak Basir.
           Sesampai dikelas suasana sangat ricuh, sepertinya dua buah kipas angin yang terpaku manis di dinding tidak mampu menyumbangkan anginya untuk tiga puluh dua makhluk yang ada didalamnya. Selama hampir sebulan setengah aku tinggal di Pontianak, sepertinya baru hari ini panas luar biasa. Aku pun mengambil handphone di saku rok, membuka aplikasi peramal cuaca. Mataku terbelalak ketika tahu, saat ini 34Âş celcius siap memanggang kami. Aku tidak mengerti, kenapa ini semua bisa terjadi di tanah Khatulistiwa.
            Pikiranku sudah kemana-mana, tidak fokus lagi dengan pelajaran siang ini. Aku ingin buru-buru pulang, membuka kulkas dan menikmati jus apel yang tadi pagi aku buat, berbaring manja ditempat tidur sambil menikmati belaian lembut dari guling guling imut milikku. Tapi sepertinya ini hanya akan menjadi mimpi ketika hujan turus dengan laknat tanpa memikirkan nasib kami yang harus pulang dengan angkot. Petir terdengar dimana-mana, kilat saling sambar menyambar laksana sebuah kamera canggih yang dipegang oleh paparazzi untuk mengambil gambar dari artis incarannya.
            Saluran air sudah mulai penuh, lapangan basket sudah dipenuhi air, tapi hujan seolah ingin balas dendam dengan matahari yang sudah menjahati bumi. Aku bingung, kalau kalau air sudah masuk kerumahku dan memeluknya. Aku ingat belum merapikan buku-buku sehabis belajar tadi malam, pasti saat ini mereka sedang berenang bebas entah ke arah mana.
          Bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit lalu, namun belum ada satu pun murid yang beranjak dari bangkunya. Hujan terlalu lebat diluar sana. Uh, aku ingin pulang! Apa kabar rumahku sekarang?!
            “Kau kenapa, gelisah sekali kayaknye?”
            Teman yang duduk disebelahku akhirnya bersuara.
            “Aku takut rumahku kemasukan air.”
            “Rumah kau didaerah mana memangnya?” dia bertanya lagi.
            “Purnama depan…”
            “Wah, kalau begitu siap-siaplah kau pulang ini untuk menguras air dalam rumah. Daerah purnama itu mudah sekali kebanjiran, hujan sedikit saja air sudah tergenang. Meskipun jalnnya tinggi tapi tetap saja daerah rendah..” jelasnya.
            Ah, matilah aku! Mengemaskan rumah sendiri. Seandainya aku menuruti apa kata ibu untuk tinggal bersama pembantu dan tidak sok mendiri seperti saat ini, pasti aku tidak akan kerepotan.
            “Kau tinggal sendiri?”
            “Iya, mengontrak.”
        “Maaf ye, aku tak bisa membantu. Rumahku juga pasti banjir, dan aku harus membantu emak menguras rumah.”
            “Iya, tak apa.”
       Aku berpikir keras, langkah awal seperti apa yang harus aku lakukan setibanya dirumah nanti. Mengemaskan kamar, atau ruangan yang lain. Untung rumahku tidak terlalu besar, tapi tetap saja aku harus mengemaskan rumah seorang diri.
         Sepertinya aku harus memaksakan diri pulang hujan-hujanan, sudah terlalu lama menunggu membuatku bosan, masih belum ada kepastian. Mungkin hujan-hujan seperti ini akan ada angkot yang beroperasi dan sukur-sukur ada yang mau menumpangkan ku pulang, tentu saja dengan mobil.
            Setelah berpamitan dengan seisi kelas yang tampaknya juga sudah mulai bosan menunggu aku segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar sekolah yang letaknya cukup jauh dari kelasku. Kebetulan aku bertemu lagi dengan Paris dan Basir di depan ruang kepala sekolah.
            “Eh, udah dijemput?” sapa Basir.
            “Aku naik angkot, jadi jalan dulu kedepan. Sorry aku buru-buru takut rumah ku tergenang..”
           “Pulang dengan kita aja.” Paris bersuara. “Iya, jemputan kita sudah ada didepan, yuk!” tambah Basir.
         Tidak berpikir lagi dalam menerima ajakan mereka, aku langsung mengiyakan. Kapan lagi dapat tumapangan, hitung hitung mempercepat sampai dirumah dan hemat ongkos. Mobil yang menjemput mereka tidak mewah, jauh dari apa yang aku bayangkan. Hanya sebuah mobil carry tua yang sudah penyok dibeberapa bagian body-nya. Aku duduk dikursi tengah bersama Basir, sedangkan Paris didepan. Wajar ia harus mendapat tempat yang lebih luas.
            Kondisi jalanan lengang, aku tidak melihat satupun angkot beroperasi. Beruntung aku bertemu dengan dua sahabat ini. Tidak perlu waktu lama untuk sampai dirumahku, dan benar saja rumahku sudah kedinginan. Air setinggi betis orang dewasa dengan liar merambah setiap sudut ruangan.
            Kami bertiga bergegas kedalam rumah, sang supir diperintahkan Paris untuk segera pulang dan menjemput mereka setelah dihubungi nanti. Paris dan Basir segera menggulung celana mereka hingga ke pangkal paha, hihihi geli melihat gaya mereka!
            “Apa yang kita bantu, Nggun?”
            “Tolong selamatkan apapun yang masih bisa diselamatkan.”
            “Airnya udah mulai surut sih, ada sapu lidi ndak? Ini lantainya pasti kotor.”
            “Coba cari dibelakang, aku mau kekamar, menyelamatkan buku.”
            Tak perlu berlama-lama untuk menyelamatkan barang-barang yang tersisa, sebab memang tidak banyak yang bisa diselamatkan lagi. Air sudah masuk terlalu lama. Melihat Paris dan Basir yang tercogok ditembok beranda aku pun berniat membuatkan mereka sekedar minuman hangat.
            Kami menikmati minuman sereal yang aku buat barusan. Untung persediaan masih ada, kalau tidak matilah aku mau dikasih apa anak orang yang sudah membantu membereskan rumah. Perut kami lapar, tentu saja, kondisinya pulang sekolah kami harus bekerja ditemani dengan udara dingin yang membabi buta.
            Ku lihat langit, awan hitam masih berkumpul seperti masih akan ada arisan lanjutan, mereka tidak tahu di bawah langit air bah kecoklatan sudah menguasai sebagaian bumi khatulistiwa. Gemuruh masih terdengar, para tetangga juga masih sibuk menyelamatkan perabotan rumah tangga. Ada yang sibuk dengan permadaninya, sofa-sofa raja yang berada diruang tamu, atau mungkin jemuran yang belum sempat mereka angkat.
            Kami cekikikan melihat anak kecil di depan rumah yang malah berenang diantara sampah sampah parit. Ibunya hanya bisa menatap pasrah dan berkata dalam hati, “Ya Tuhan, banjir ini berkah buat kami!”
            “Sepertinya kita baru kenalan tadi siang, tapi udah akrab begini ya?” Basir membuka obrolan.
            “Ini bukan akrab, tapi hanya sekedar membantu teman.” Jawab Paris.
            “Apapun itu, terimakasih sudah membantu ya.. Oh iya kenapa namamu Paris? Lahir disana?” tanya ku.
            “Kepo sekali kau ini, Nggun! Mama ingin aku sekolah disana, menjadi seorang room designer terkenal. Makanya aku diberi nama seperti itu.”
            “Ah iya, rencananya begitu lulus SMA Paris akan ke Paris. Kamu kemana, Nggun?” sekarang Basir yang bertanya. Aku bingung menjawabnya bagaimana, sebab, hingga saat ini apa yang menjadi cita-citaku masih abu-abu.
            “Aku…. Aku kehatimu..” tanpa disadari gombalan kampongan tingkat kacamata Shayrini pun keluar dari mulutku. Aku gelagapan setengah mati. Apalagi Basir jadi senyum-senyum sendiri.
            “Apa aku bilang, kau nanksir dengan dia kan? He Anggun, asal kau tau, cewek yang naksir sama Basir ini banyak. Kau lihat dia, ganteng, ya walaupun belum ada apa-apanya dibanding dengan wajah saudara ku, Dude Herlino.”
            “Ah, kau bisa saja, Nggun. Oh ya kenapa namamu Anggun?” tanya Basir.
            “Sederhana, ibu ingin aku menjadi perempuan yang Anggun.” Jawabku singkat.
            Kami terbuai dalam obrolan singkat, ternyata dua sahabat ini sangat asik untuk dijadikan teman, tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak terasa hari semakin sore, air juga sudah mulai surut. Keduanya pamit pulang. Aku sendiri lagi dirumah, membereskan sisa-sisa sampah.

***
            Aku tidak tahu, ikatan apa yang telah terjalin diatara kami bertiga. Inikah yang namanya sahabat? Semakin hari kami semakin akrab. Paris dan Basir menjadi kuli abadi dirumahku setiap kali banjir datang. Hingga akhirnya setelah lulus SMA aku pindah ke Jakarta, ibukota Indonesia tempat ayahku dilahirkan. Kabarnya Basir saat ini sedang menyelesaikan pendidikan SMA-nya di salah satu sekolah terfavorite di Jerman, ia harus mengulang satu tahun, dan Paris sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Paris tahun depan, ia benar-benar akan kuliah disana.
            Sudah lama tidak berjumpa dengan mereka, rasanya seperti ada yang berbeda. Aku sering teringat ketika kami sering pergi ke taman kota saat masih di Pontianak dulu. Kami sering bercengkrama di taman sekolah tempat kami pertama bertemu dulu. Mengingat kenangan itu membuat tanganku meraih handphone dan mengirimkan pesan singkat pada Paris.
            Ris, apa kabar? Gimana urusan sekolahmu, sudah beres?
            Tidak perlu menunggu lama Paris sudah membalas pesanku. Dari dulu ia memang tidak pernah berubah, selalu kilat dalam membalas pesan. Namun sebaliknya dengan Basir, ia lamban dalam merespon. Apalagi merespon kata hatiku, ia tidak peka.
            Aku baik, kau? Bagaimana dengan perasaanmu kepada Basir, sudah kau sampaikan?
            Ah, Paris memang paling tahu. Sebab, memang hanya dia dan Tuhanlah yang tahu, aku tidak pernah bercerita pada orang lain.
            Baik. Rasanya masih sama, aku belum berani mengatakan ini padanya.
            Untuk ini tidak ada sebab dibalik akibat, aku hanya mengikuti alur. Tidak mau mengatakannya segera pada Basir. Aku masih ingin hidup tanpa mantan, meskipun batin tertahan.
            Kau menatanya dengan rapi sejak kita berkenalan. Aku salut. Tapi rasanya percuma kalau perasaanmu itu ditelantarkan begitu saja. Kau tidak mungkin tau perasaan dia ke kau.
            Paris masih terus seperti ini. Mendesak diam-diam.
            Sudahlah, kau tak tau kan dia sekarang sudah punya pacar? Makanya aku tak mau berkoar-koar. Sakit sendiri.
            Mungkin Paris akan terkejut membaca pesanku yang ini. Benar saja, tidak lama setelah aku meletakkan handphone, Paris menghubungiku.
            “Kau tau dari mana Basir punya pacar?”
            “Aku membaca blog seorang, dan, ya, dia itu pacar Basir.”
            “Kirimkan aku link-nya, biar aku pastikan pada Basir. Aku jadi penasaran. Sabarlah kawan, semua akan indah pada masanya.”
            “Baiklah…”
            Aku menutup telepon, lalu mengirimkan apa yang diminta Paris. Aku yakin se-yakin-yakinnya perempuan ini adalah kekasih Basir. Secara gamblang dia menyembutkan nama Basir pada blog pribadinya, dan ada fotonya pula.
            Saat mengetahui hal ini seperti terjadi gempa berkekuatan besar dalam jantung. Lebih dari sekedar shocktheraphy yang biasanya diberikan oleh guru matematika-ku dulu dengan cara menyuruh secara acak murid-muridnya mengerjakan soal trigonometri didepan kelas.
            Demi mendapatkan informasi yang sempurna, aku membuka akun twitter perempuan tersebut dan mengubek-ubek isinya. Benar saja, mereka pernah merajut kasih. Demi bunga edelweiss di kaki gunung, aku benci Basir, tapi apa daya, hati masih mencintainya. Sejuta kesalahan yang telah Basir lakukan padaku, masih saja aku maafkan. Sudah berbagai cara aku lakukan agar aku membencinya, namun sia-sia.
            Waktu bergulir tanpa terasa, menikmati setiap detik napas yang masih ada. Rembulan masih menerima sedikit cahaya sang mentari, raja galaksi. Saat ini, aku sudah kuliah di universitas yang menjadi incaranku sejak dulu, di fakultas kedokteran pilihan ibu. Seminggu lagi Paris akan berangkat, dan kabarnya Basir juga akan tamat dari SMA-nya. Kabarnya ia akan kembali ke Indonesia setelah semua urusannya selesai.
            “Aku sudah membuat janji dengan Basir, kami akan bertemu di Singapura. Aku akan membicarakan hal ini, kau tenang saja. Aku yang akan minta penjelasan darinya.” Paris berkata dengan semangat, sepertinya ia juga geram terhadap Basir yang tidak pernah bercerita tentang kekasih barunya. Kami seolah sahabat yang di sia-siakan.
            “Aku akan menunggu kabar darimu, sakit memang perasaanku. Sudah lama aku menyimpan rasa, tapi beginilah adanya. Ia mencintai perempuan lain.” Aku menghirup Coffelate yang dipesan setengah jam lalu. Aku dan Paris bertemu di salah satu cafĂ©, saat ini ia sedang berlibur di Jakarta, sekalian pamit denganku. Paris, kau masih akan terus aku rindukan!
            “Basir tidak pernah menceritakan hal ini, kenapa dia jadi tertutup? Sepertinya ada yang aneh ya?”
            “Tertutup gimana maksudmu?”
            “Kau tahukan, Basir itu sangat terbuka. Ia selalu menceritakan setiap detik yang dilewatinya kepada kita.”
            “Jangan terlalu yakin begitu, tidak semua yang kau alami harus diceritakan, Ris!”
            “Yang sabar sajalah, Nggun.”
            Semenjak pertemuan aku dan Paris sore itu, aku jadi sering terbayang-bayang sosok Basir. Seperti apakah rupanya saat ini? Mungkin dia sudah tumbuh menjadi remaja tampan yang dikelilingi wanita-wanita cantik. Sebetulnya aku sudah menulis sebuah surat yang akan aku sampaikan pada Basir sejak dahulu, tapi aku tidak pernah berani. Sudah berkali-kali aku mencoba memberanikan diri untuk menyampaikan surat itu. Bukan hanya satu surat, tapi banyak. Paris akhirnya geram sendiri, ia pernah menawarkan dirinya sebagai kurir suratku, hehehe.
            Pagi ini sebelum berangkat ke kampus, aku menulis surat lagi. Surat yang kesekian. Surat tanpa pembaca. Surat yang selalu berakhir dengan kata ‘dari aku yang mengagumimu’. Kalau dipikir-pikir, hina sekali aku ini. Pengecut. Hanya berani mencintai diam-diam, kalau sudah di sakiti barulah menangis sejadinya, terlalu rapuh untuk menjadi seorang ‘Anggun’.
Halo, Apa kabar?  Masih ingatkah pada diriku?
Sudahlah, aku tak perlu jawabanmu. Aku tahu kamu bahagia sekarang bersamanya.
Sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan hal ini padamu, menyampaikannya secara langsung bukan melalui tulisan. Tapi aku tak memiliki keberanian, aku hanya berani menyampaikan ini melalui tulisan yang mungkin kamu tidak akan pernah membacanya.
Jauh sebelum kamu mengenal dia, aku sudah memiliki rasa ini padamu. Semenjak kita sering menghabiskan kebersamaan itu, menikmati rintik hujan dikala senja, menyatu dalam tawa. Melihat matamu yang tinggal garis, keseriusan ketika beradu pada butir butir soal yang kejam, berlomba menghabiskan makanan dalam piring kita, menepuk nepuk pundak ketika ada hal yang kita anggap lucu.
Seringkali aku merasa nyaman ketika bersamamu, apa kamu juga merasa seperti itu? Mungkin tidak. Pernah dengan sengaja aku mengirim pesan singkat untukmu, karena aku rindu. Aku betah berlama-lama dalam hal apapun jika itu melibatkan kamu. Bahkan sampai kau pergi menyebrangi benua pun aku masih sering berlama-lama menahan panasnya laptop-ku hanya untuk menunggu namamu muncul di daftar teman chat facebook ku. 

Dalam canda yang hadir diantara kita mulailah terjalin keakraban itu. Keakraban pembawa cinta. Dalam setiap sapaan, aku selalu menyelipkan perhatian-perhatian kecil itu. Sekedar bertanya apa kabar kamu hari ini? Sudah makan kah? Ada cerita apa? Lalu aku mendengarkan cerita panjangmu, yang tak jarang berujung pada kisah cinta artis favorite-mu. Dengan cara inilah aku menjaga keharmonisan itu, berharap kau tak hanya mengaggapku sebagai teman cerita, melainkan lebih dari itu.

Yang ingin aku katakan sebenarnya bahwa aku mencintaimu lebih dari sekedar sahabat. Berawal dari rasa kagumku atas pemikiran pemikiran cerdasmu, atas segala asumsimu terhadap berbagai macam hal. Sudah aku coba untuk menepis jauh jauh rasa ini, tapi aku tak bisa. Aku sudah terlalu jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada setiap patah kata yang kau tulis. Cinta ku dalam secangkir sereal hangat yang sengaja aku buat untuk menghangatkan tubuhmu. Tubuh kita. Melalui sereal itu aku harap dingin yang menyerangmu bisa melebur dalam kehangatan. Sebab, aku tahu, aku tak bisa memelukmu.

Jadi beginilah perasaanku selama ini. Sudahkah kamu mengerti?  Jika kamu ingin tahu yang sebenarnya, bisa kamu tanyakan langsung padaku. Kamu masih tahu kan cara bagaimana menghubungiku?

Salam, dari aku yang tidak pernah berani mengatakan yang sesungguhnya. Semoga kamu berbahagia :)

          Dalam perjalanan menuju kampus, hujan turun dengan laknat. Ini mengingatkanku pada hujan pertama ketika aku di Pontianak dulu, rumahku kebanjiran, dan Tuhan mengirimkan dua malaikat, Paris dan Basir.
            Handphone-ku bergetar dari dalam tas.
            “Halo, Paris! Kau dimana?”
            “Aku di Singapura. Sibukkah kau? Ada yang ingin aku ceritakan.”
            “Ya, ceritalah, Ris!”
         Panjang lebar Paris bercerita, sehingga aku lupa ada kelas jam delapan tadi, aku bolos. Tapi setidaknya ini membuatku lebih tenang, meskipun ada perasaan kurang yakin dengan segala apa yang ia ucapkan…
          “Tadi malam aku bertemu Basir, aku minta dia menjelaskan semuanya. Tentang perempuan itu, tentang perasaannya padamu juga. Rupanya mereka tidak pernah menjalin hubungan, hanya sekedar teman…”
           “Kalau hanya teman tidak mungkin sampai seperti itu, kau baca sendirikan tulisan diblog itu?” kataku.
            “Kau diam dulu, Nggun! Biarkan aku bercerita!” aku terkekeh mendengar Paris yang nada suaranya mulai meninggi.
            Paris pun melanjutkan ceritanya, “Mereka memang pernah dekat, tapi tidak pacaran, namanya hts, hubungan tanpa status. Perempuan itu yang naksir Basir, sedangkan Basir tidak memiliki perasaan ke dia. Aku juga bertanya, apa sebenarnya dia tau kalau kau menyimpan rasa padanya, dan dia menjawab tau dengan pasti! Hallo Anggun, kau masih mendengarkan aku kan?”
            “Iya, Ris. Apa kau yakin mereka tidak pacaran? Dan dari mana dia tau perasaanku?”
            “Aku sudah mendesaknya, ratusan bahkan ribuan kali, tapi tetap saja ia bilang tidak. Apa kau tidak percaya dengan sahabatmu ini? Dari mana asalnya dia tau perasaanmu, katanya sejak lama ia sudah tau. Sejak ia masih di Indonesia, sejak kita masih sering sama-sama dulu.”
          Sejenak aku tertegun, bagaimana Basir bisa tahu. Sedangkan aku tidak pernah menyampaikan secara gamblang tentang ini semua. “Lalu aku harus gimana sekarang?” tanyaku pada Paris.
            “Nikmati saja dulu apa yang ada. Setiap orang memiliki masa lalu, kau juga ‘kan? Sekarang yang terpenting adalah fokus pada masa depan kalian berdua..”
            “Masa depan kami? Haha.. Tidak akan pernah menjadi satu. Buktinya meskipun dia sudah tau peraaanku, kenapa aku tidak pernah di feedback?”
            “Mungkin kau sudah tau jawabannya ini. Sudah dulu ya, pesawatku take off setengah jam lagi.”
            “Ya sudah, bilang sama pilot yang membawamu, hati-hati.”
            “Oke.. Sampai jumpa di masa depan, Nggun!”
            “Bye!”
          Mungkin benar apa yang Paris katakan, tidak ada yang perlu aku lakukan untuk saat ini. Bukan fokus pada masa depan, yang benar adalah fokus pada proses pencapaian masa depan masing-masing. Salahku juga kenapa aku jatuh cinta pada seorang berhati batu. Seringkali aku bertanya pada diri sendiri, benarkah jatuh cintaku ini?
Raga menyatu dalam jiwa, mendengarkan penjelasan tentang hati yang selama ini aku rasa sepi, padahal tidak. Senyum sumringahku menyiapkan segalanya untuk akhir bulan nanti dalam perayaan hari jadiku. Aku semakin tak sabar, sejuta keinginan dengan segera ku ukir dalam sebuah lembaran putih. Beribu detik berkumpul menjadi satu, yang disebut waktu. Semakin tinggi matahari, obrolan itu makin hangat kearah rimbun kasih sayang. Dalam kasih yang membahana aku masih seperti yang dahulu, menimati sosok sahabat dari jauh. Rasa kagum ini sulit untuk diselimuti. Namun, sebisa mungkin aku menyembunyikannya agar semuanya tetap seperti sedia kala. Dan menjadi percuma.
Kadang aku juga bingung, sebetulnya aku ini jatuh cinta pada manusia atau batu, sih? Aku takut makin terjerat dalam kebutaan kasih denganmu, Sir. Aku memang tidak pernah berharap mendapatkan balasannya. Tetapi ketahuilah, aku masih menyimpan rindu dahsyat.
Ini memang bukanlah hal mudah, menyimpan perasaan yang terlalu jauh pada sahabat sendiri, tapi aku tersenyum mengangguk mengingat perasaanku ini sudah tertanam sejak tiga tahun lalu. Tapi bukankah setiap orang berhak mencintai dan dicintai ‘kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan