(Bukan) Surat Cinta

Untukmu, kakak alumni terkeren disekolahku.

Aku ingat betul kapan pertama kali aku melihatmu. Saat MOS 2 tahun lalu, kakak senior yang begitu dingin dimataku dan aku sebagai junior yang mungkin akan kau bodohi. Aku lebih sering melihatmu diam tapi bola matamu itu tetap bicara. Entah pada siapa. Diam-diam aku sering memerhatikanmu, segala tingkahmu. Apa kau memerhatikan ku juga? Mungkin tidak, karena aku hanya seorang bocah ingusan dengan tempelan disana sini. Ya, sedikit menjijikan.

Aku tak tahu banyak tentangmu. Yang aku tahu kamu adalah sosok yang pantas aku kagumi. Betapa tidak? Kau keren dimataku. Dengan kehadiranmu itu cukup memberikan semangat di setiap detik kehidupanku, semoga kehadiranku ada manfaatnya dihidupmu ya, Kak? 

Waktu berlalu terasa begitu cepat. Aku masih sering bermimpi, mimpiku masih tentang bersama mu. Mungkin saat ini kau sudah tahu betapa aku mengagumi mu. Dan doaku masih tetap sama, semoga Tuhan menyadarkanmu bahwa disini ada aku. Bukan aku menyukaimu, karena aku tahu ada yang telah memilikimu disana. Ia yang amat mencintaimu. Disini aku sadar. Aku hanyalah partikel kecil, bagian dari pengagum mu.
 
 Ini yang disebut sebuah penantian berarti. Setelah sekian lama, akhirnya kau mengirimkan pesan singkat padaku. Kau tau reaksi apa yang terjadi padaku saat itu? Bukan seperti reaksi antara larutan NaCl dengan larutan lainnya. Tapi ini reaksi manusiawi. Entah apa namanya itu, koprol-salto-khayang-manari-menangis. Sejadinya aku menangis, karena bahagia, karena pesan singkatmu. Walaupun sejatinya pertanyaanmu kali ini bukanlah yang kuinginkan, kau bukannya bertanya "Apakah kau sudah punya pacar? atau Apakah kau sudah makan malam?" Tapi kau malah bertanya, "Bagaimana populasi badak bercula?"

Goresan kecewa tetap ada, meskipun demikian aku tetap bahagia. Karena setidaknya kau bertanya padaku. Sesingkat apapun obrolan, kita tetap ku maknai. Sempat beberapa kali kita berbalas tweet, singkat saja. Namun itu cukup berkesan. Asal kau tahu,, beberapa pesan singkatmu masih ku simpan, beberapa tweetmu aku jadikan favourite, dan beberapa kata-kata manismu masih selalu ku ingat. 

Kepada kakak yang ku kagumi, bukan ku cintai 
Aku menyukai cara mu berpantomim, gayamu dalam menafsirkan isyarat itu dengan mudah ku tangkap. Meskipun tanpa dialog, cukup dengan gerak tubuh dan mimik diwajahmu aku tahu, kau berbicara. Beberapa kali aku melihatmu berpantomim, tampaknya kau bahagia dengan kelihaianmu itu. Aku mendukungmu.

Kini, sudah lama kita tak bertemu. Semenjak kau meninggalkan bangku SMA. Aku sudah tak tahu bagaimana kau saat ini, aku hanya bisa melihat beberapa foto terbarumu yang kau postkan di facebookmu. Setidaknya rupamu masih sama, masih bisa ku kagumi. 

Semoga kita masih bisa bertemu dilain waktu dan lain kesempatan, Kak. Semoga kau masih pantas menjadi sosok yang ku kagumi.

Maafkan aku yang tak berani berterus terang, maafkan aku yang menikmati mu dari kejauhan, dan maafkan aku yang menulis ini untukmu. Perlu kau tahu, tulisan ini bukan surat cinta namanya, hanya sebuah bentuk ungkapan. Ungkapan betapa bahagianya aku bisa melihatmu kebingungan depan pintu kelasku.

Dari : Junior yang kau kirimkan sticker babi
 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan