Malam Opera ?
Kisah ini bermula saat seorang temanku meminta aku
untuk menemaninya pergi ke sebuah tempat. Ia menyebutnya "penghanyutan
malam" dan aku tidak tahu apa itu. Temanku bilang kita bisa menceritakan semua keluh kesah dan beban hidup
yang kita rasakan dan kita akan mendapatkan bayaran sebesar 1 Euro. Memang
terdengar agak aneh, tapi ini seperti kenyataan.
Jadilah aku pergi
ketempat yang dimaksud. Tepat itu seperti rumah dukun dadakan, ya dadakan.
Hanya menggunakan tenda darurat. Aku tak diperbolehkan masuk, aku hanya
menunggu di parkiran depan tenda. Sepi. Sendiri.
Tak berapa lama kemudian
temanku kembali menghampiriku.
Lalu aku bertanya,
“Sudah?” dia hanya mengangguk.
Dengan rasa penasaran aku
masuk ketempat itu. Rasa penasaran itu membawaku duduk dihamparan tikar depan
tenda itu.. Disana aku menemui banyak orang. Namun, yang wajahnya jelas
dihadapanku hanya dua orang yang sedang berbicara.
Dua orang laki-laki yang
sebaya denganku. Kedua laki-laki itu tampaknya sangat akrab. Aku pun tersenyum,
keduanya membalas senyuman ku dengan ramah. Tanpa kusadari sebuah tangan
menyentuh lembut tangan kiriku. Aku menoleh ke sosok yang ada disebelah kiriku,
lalu aku tersenyum dan menarik tangan ku kembali.
Aku pulang. Sepanjang
perjalanan aku tak merasakan apapun termasuk angin. Padahal hari sudah malam.
Hanya sinar bulan dan kerlipan bintang yang menemani perjalananku. Aku seperti
dikendalikan oleh setan! Rasa lelah menyelimuti pikiranku dan badanku terasa
remuk maka aku segera beristirahat.
Keesokan malamnya aku
dibawa oleh temanku untuk menonton opera. Namun, dalam opera kali ini kita
sebagai penonton juga mengambil peran dalam kisah. Aku bingung, kalau seperti
ini siapa yang akan menjadi penonton? Percuma diadakan opera. Kebingungan ku
dapat dirasakan oleh orang-orang disekitarku. Mereka bertanya satu sama lain.
“OPERA SEGERA DIMULAI”
Apa? Dimulai? Mana penontonya?
Mataku terbawa kesosok
laki-laki kemarin malam. “Kenapa ada dia?” pikirku. Lalu ia tersenyum padaku.
Disitulah aku merasakan ada sesuatu yang menggebu.
Detak jantungku sudah tak
beraturan lagi. Darahku mengalir begitu derasnya hingga tak terkontrol.
Pikiranku kacau. “Ada apa ini?” untuk beberapa saat aku tak sadarkan diri
hingga akhirnya aku terbangun.
Payah! Aku memang payah,
begitu saja sudah lemah.
***
“Apa? Tidak mungkin!
Gimana bisa sekarang aku jadi pacar dia!” Aku menunjuk laki-laki itu. Tak ada
yang menjawab. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Aku juga bingung,
sebenarnya aku ini berbicara dengan siapa?
Apakah ini bagian opera.
“Tidak, tidak mungkin!” teriakku.
Salah satu dari mereka
berkata “Sudah terima saja.”
Aku nggak mungkin
bisa terima ini semua. Toh, aku juga tidak mengenal laki-laki itu.
Aku dan laki-laki itu
berjalan ditemani sinar lampu yang terhalang tingginya pohon pinus. Aku baru
menyadari kalau ternyata tempat ini indah sekali. Jujur, sebenarnya aku tidak
tahu nama tempat ini, dan ini pertama kalinya aku berkunjung ke tempat ini.
Lama kelamaan aku merasa
akrab dengan suasana malam ini.
Aku terus dihantui sebuat
tanda tanya besar, karena sampai saat ini aku belum tahu nama lelaki yang
menggenggam erat tangan ku malam ini. Ternyata tidak enak kalau berjalan
berduaan seperti ini, semua mata melihat kearah kami.
Sampailah kami diujung
malam. Malam yang menghanyutkan, semuanya saling mengucapkan salam perpisahan.
Hanya kami yang tidak. Karena kami yakin suatu saat kami pasti bertemu lagi,
dan kami hanya tersenyum satu sama lain. Dan saling melambaikan tangan.
***
Malam berikutnya!!
Malam ini sama dengan
malam-malam yang baru saja berlalu. Kami mulai berperan dalam opera bualan. Ini
adalah malam ketigaku bertemu dengan lelaki itu. Tapi sampai saat ini aku belum
tahu namanya. Atau dia yang tidak memiliki nama? Dia juga belum tahu namaku,
mungkin. Aku berusaha memberitahu namaku. Namun, laki-laki itu hanya tertawa
lalu diam!
Kami masih terus
berjalan, tanpa arah yang pasti. Dan sekarang kami telah berada di sebuah
pendopo yang menghubungkan tepian danau dengan sebuah lapangan yang sangat luas
sekali. Pendopo itu sangat indah, dengan di hiasi lilin kecil yang
mengelilinginya. Serta taburan bunga mawar.
Wajah kami mulai
mendekat. Semakin erat lelaki itu memegang tanganku. Hembusan nafasnya mulai
terasa begitu kuat. Hidung kami saling bersentuhan dan mulailah season itu.
Hanya beberapa detik saja kami menikmatinya. Tiba-tiba datanglah seorang wanita
yang menarik tangan lelaki itu dengan paksa dan membawanya pergi.
“Hey, kau..” teriakku
seperti tidak ada yang mendengar.
Aku berteriak sekali lagi
tak ada yang mendengar. Terasa tetes air mata mulai membasahi pipiku. Aku
berlutut meratapi kepergian laki-laki itu.
***
Semenjak kepergian
laki-laki itu aku terus merasakan sedih yang mengusik hatiku. Hingga
berhari-hari rasa sedih itu tak kunjung hilang, malah semakin parah. Aku
termotivasi oleh teman-teman ku yang terus menyuruhku mengejar laki-laki dalam
malam opera itu. Semangatku bangkit lagi. Hingga pada suatu malam aku bertekat
mengunjungi tempat malam opera.
Malam itu seperti biasanya. Banyak orang disana sini. Aku mencari sosok itu.
Tidak sedikit pun bayang-bayangnya ku lihat. Mata ku terpaku pada dua sosok
yang yang sedang duduk membelakangiku menghadap danau yang dihiasi teratai
layu. Seperti hatiku, yang sedang layu. Mereka tampak mesra dan akrab. Aku
beranjak dari tempatku semula. Aku berdiri dalam diam dihadapan dua sosok itu.
“Kau.. Ikut aku!” Aku
menarik paksa tangan laki-laki itu, seperti yang dilakukan oleh wanita yang ada
disebelahnya beberapa hari lalu.
Tapi tarikan ku ditepis
oleh wanita itu. Wanita itu malah mengajak lelaki itu pergi. Mereka
meninggalkan ku sendiri disini, yang masih berdiri dalam diam.
Aku tak menyerah. Aku terus mengikuti kemana perginya mereka berdua. Hingga
pada saat lelaki itu tersenyum pada ku, aku tak membalas senyumnya karena aku
sudah letih mengikutinya. Aku putus asa. Sempat terpikir dibenakku untuk
melepaskannya demi wanita itu. Kurasakan seperti ada gelora yang merasuki
jiwaku. Semangatku bangkit kembali.
Aku kejar mereka berdua
yang sedang asyik menikmati indahnya malam itu. Kutarik tangan laki-laki itu
dengan paksa, lebih kuat dari sebelumnya. Dan aku mendapatkanya. “Dia milikku.
Silahkan kau mencari yang lain!” Kataku kesal kepada wanita itu.
Apa yang barusan aku katakan hingga wanita itu
pergi meninggalkan kami berdua disini. Rasa senang menyelimuti hatiku.
Kurasakan sentuhan lembut mendarat dipipiku. Oh, ternyata sentuhan dari lelaki
itu. Lelaki itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Senangnya hati ini
kembali berada dipelukan sang pujaan. Aku berjanji pada diriku tak akan
melepaskan cintaku untuk siapapun. Demi sebuah cinta yang tulus, aku rela
sepenuhya atas diriku untuknya.
Aku rindu menghabiskan malam bersamamu, Tuan.
Untukmu
yang selalu hadir dalam mimpiku,
biarkan
aku tetap mengagumimu.
Komentar
Posting Komentar