Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Surat untuk Ayah-Bunda; Suara Hati Kami

Assalamu'alaikum, Ayah-Bunda yang saya cinta!! Sudah lama kami merangkai kata untuk kalian, yang kini telah berubah menjadi paragraf padu. Berisikan tentang jeritan hati kami; keluh kesah, kebahagiaan, serta berbagai macam potret kehidupan yang selama ini kami jalani, yang sebenarnya ingin sekali kami ceritakan padamu. Tapi apa daya, tidak sedikitpun waktu kalian untuk kami. Ayah-Bunda dengarkan ini! Ketika rumah megah, jabatan, dan harta menjadi panutan. Yakinlah tidak sedikitpun rasa puas menyentuh hati kalian. Panasnya terik matahari sekalipun sudah lagi tidak bisa kalian rasakan demi gengsi, demi menjaga image dihadapan relasi kalian. Siang dan malam kalian bekerja mengais pundi-pundi rezeki, sementara disini, dirumah, kami menunggu kedatangan kalian. Datang tengah malam disaat kami telah tertidur lelap, mengusap lembut pipi dengan jemari penuh kehangatan, mencium kening kami, mengucapkan selamat malam. Sungguh kami ingin melampiaskan kerinduan masa kecil kami pada kal...

Ketika Ayahmu Menyapaku

Gambar
Duduk berlama-lama menghadap monitor mungkin salah satu hobi gue. Ada banyak yang bisa gue lakukan disana, apalagi ketika PC tersambung dengan internet, aah bahagianya!! Terlebih setelah jejaring sosial seperti facebook, twitter, skype, dan sebagainya kian marak, hueeee gue bisa dengan leluasa mencari teman sebanyak-banyaknya disana. Cari pacar sekalian, sukur-sukur dapat patjar yang begini modelnya :) Anyway, pada sadar nggak sih judul tulisan ini 'Ketika Ayahmu Menyapaku'? Ceileeeeh, seneng gue bro. Saking senengnya sampe lupa kalau pas malam itu lagi gedek dengan html. Siapa sih yang nyapa elo, Nggits? Sampe segitunya, biasanya juga kalau ada yang ngajak chatingan di pesbuk langsung di endchat. Jadi waktu itu tuh udah larut malam banget, sekitar jam 12an gitu deh. Sablengnya gue tab pesbuk belom di close-in, terus kan nama gue ada tuh di daftar temen chat. Nah, kebetulan poto profil gue kan cakep yak, mungkin itu juga yang mendorong tuh om-om buat ngechat gue, h...

Surat dari Bunda

Gambar
Untuk Anakku Tercinta, Nak, kami sudah dimakan usia. Umur kami sudah tidak lama lagi, kami mohon pada kalian agar bisa memahami dan memiliki kesadaran lebih dalam merawat kami yang kekanak-kanankan ini. Jika suatu ketika kami memecahkan piring, menumpahkan makanan yang sudah susah payah kalian buatkan, membangunkan kalian dimalam hari saat tertidur pulas, atau bahkan merusak barang milik kalian, kami berharap kalian tidak marah pada kami. Orang tua itu perasaanya sensitif, nak . Sekali saja kalian memarahi kami atau hanya meninggikan suara itu sama saja kalian telah menyakiti perasaan kami. Membunuh kami secara perlahan. Jangan bentak kami, Nak! Nak, ketika pendengeran kami semakin lemah, jangan kalian panggil kami, 'TULI!' , kami mohon ulangi saja apa yang kalian katakan itu dengan perkataan yang lebih lembut agar kami bisa lebih menangkap apa yang kalian ucapkan. Atau mungkin kalian bisa menggunakan bolpoin dan selembar kertas untuk berbicara pada kami. Maafkan ...