Postingan

Menampilkan postingan dengan label ♥ Surat Cinta

'Ah Sudahlah Ya' It means Kalau Iya Gimana?

Kepada tuan pemiliki jiwa yang tangguh, dan hati yang suci.. Tuan, tahukah rasanya derita? Derita itu saya definisikan sebagai saya yang masih menyatu dalam kepura-puraan, pura-pura tidak mencintaimu, pura-pura tidak membutuhkanmu. Ingatkah tuan tentang kunang-kunang? Tetap terang meski sekitarnya gelap, seperti yang pernah tuan katakan kepada saya. Saya harus menjadi seperti kunang-kunang itu, tapi saya lebih senang menyebut diri ini sebagai bintang. Karena bintang butuh cahaya matahari. Seperti saya yang membutuhkan tuan agar bisa bersinar. Saya pernah bercerita tentang bintang yang selalu punya cara untuk mencintai lelakinya, meski itu dengan cara merelakan. Lebih baik bintang sakit daripada menyakiti. Indahnya cahaya bintang, meski itu hanya pantulan. Tapi keindahan bintang memang terpancar dari dalam dirinya. Begitulah bintang, lelakinya pun tau.  Tuan pernah bertanya kepada saya, tentang Apakah Saya Mencintai Tuan? Tapi masih ingatkah tuan dengan jawab saya? ...

Tuan, Aku Rindu!

Teruntuk kamu yang entah dimana keberadaanya. Salam,  Tuan, dari angin aku mendapati kabar kau merindu. Dari kicauan burung, aku dengar kau ingin bertemu. Dengan siapa? Semoga itu aku. Tuan, sedang apa kau disana? Aku disini beradu pada batin yang selalu marah bila rindunya tidak aku lampiaskan. Memupuk sendiri agar rasa itu tetap ada, dan terus tumbuh. Senyummu terpatri dalam palung terdalam. Menafsirkan rindu itu sebagai kita. Hari selalu enggan dilewati, tanpa bisa kita pungkiri. Tuan, pernahkah kau bicara pada hati? Yang selalu mencari perpaduan antara hidup dan mati. Ada asa yang enggan menepi. Ada aku yang masih menanti. Tuan, jangan kau pergi.

Cinta 18 Hari

Gambar
Untukmu, pacar dunia maya. Salam.... Sudah lama kita tidak bertegur sapa, ya? Maaf, bukannya aku melupakanmu, hanya saja waktu yang meminta padaku agar tidak selalu mengingat kamu. Melihat kejadian beberapa minggu yang lalu.  Aku lupa bagaimana-kapan pertama kali kita berkenalan, sehingga pada akhirnya bisa menjadi lebih dekat. Lebih dari sekedar teman dekat. Usia memang bukan masalah, begitupun jarak, katamu. Ah, lagi-lagi aku terjebak dalam hubungan beda provinsi, atau lebih dikenal dengan sebutan; Long Distance Reladiselinkuhinpacar. Aku memberi kamu kebebasan dengan harapan kamu bisa lebih menghargaiku. Tapi, kamu sudah menyalah artikan itu. Seenaknya kamu mendua, meniga, bahkan mengempatkan perasaan ini. Yang aku mau nantinya bukanlah pembalasan atau penyesalan, tapi hanya kesadaranmu bahwa ini perasaan wanita bukan histeria yang akan bisa dilambungkan kemudian dijatuhkan.  Meninggalkanmu, bukan berarti aku menghapus kenangan. Karena kenanga...

Surat untuk Ayah-Bunda; Suara Hati Kami

Assalamu'alaikum, Ayah-Bunda yang saya cinta!! Sudah lama kami merangkai kata untuk kalian, yang kini telah berubah menjadi paragraf padu. Berisikan tentang jeritan hati kami; keluh kesah, kebahagiaan, serta berbagai macam potret kehidupan yang selama ini kami jalani, yang sebenarnya ingin sekali kami ceritakan padamu. Tapi apa daya, tidak sedikitpun waktu kalian untuk kami. Ayah-Bunda dengarkan ini! Ketika rumah megah, jabatan, dan harta menjadi panutan. Yakinlah tidak sedikitpun rasa puas menyentuh hati kalian. Panasnya terik matahari sekalipun sudah lagi tidak bisa kalian rasakan demi gengsi, demi menjaga image dihadapan relasi kalian. Siang dan malam kalian bekerja mengais pundi-pundi rezeki, sementara disini, dirumah, kami menunggu kedatangan kalian. Datang tengah malam disaat kami telah tertidur lelap, mengusap lembut pipi dengan jemari penuh kehangatan, mencium kening kami, mengucapkan selamat malam. Sungguh kami ingin melampiaskan kerinduan masa kecil kami pada kal...

Surat dari Bunda

Gambar
Untuk Anakku Tercinta, Nak, kami sudah dimakan usia. Umur kami sudah tidak lama lagi, kami mohon pada kalian agar bisa memahami dan memiliki kesadaran lebih dalam merawat kami yang kekanak-kanankan ini. Jika suatu ketika kami memecahkan piring, menumpahkan makanan yang sudah susah payah kalian buatkan, membangunkan kalian dimalam hari saat tertidur pulas, atau bahkan merusak barang milik kalian, kami berharap kalian tidak marah pada kami. Orang tua itu perasaanya sensitif, nak . Sekali saja kalian memarahi kami atau hanya meninggikan suara itu sama saja kalian telah menyakiti perasaan kami. Membunuh kami secara perlahan. Jangan bentak kami, Nak! Nak, ketika pendengeran kami semakin lemah, jangan kalian panggil kami, 'TULI!' , kami mohon ulangi saja apa yang kalian katakan itu dengan perkataan yang lebih lembut agar kami bisa lebih menangkap apa yang kalian ucapkan. Atau mungkin kalian bisa menggunakan bolpoin dan selembar kertas untuk berbicara pada kami. Maafkan ...

Kamu Hadir (lagi)!

Teruntuk kamu, yang (pernah) menjajah negeri sendiri Dibawah meja jati, Feb 12. Kamu ingat waktu pertama kali kita bertatap, pertama kali mata ini beradu liar, pertama kali tersungging senyum sederhana, pertama kali tangan berjabat - mengisi kosong sela jari dengan jarimu, pertama kali pikiran kita berfantasi. Hah, aku memang makhluk beruntung!  Napasku, langkahku, degap jantungku, kataku - semua terhenti sejenak ketika Tuhan memperlihatkan kepadaku betapa Ia mencipatakan makhluk luar biasa sepertimu. Degup yang hadir dalam jiwa ini laksana meriam yag ditembakkan ke arah sebuah tiang yang diam. Kemudian tiang itu bergetar dan rubuh.  Napasku seolah tidak lagi dirasakan. Sudah tak bisa di genggam lagi. Mati. Aku mati. Napasku hilang, akibat pesonamu yang masuk memaksa ke dalam kalbu, menghujam dalam sehingga sakit dan sangat membekas.  Rona warnamu masih sering timbul dalam diamku. Seringkali mengusik kebingunan, menyadarkan aku dari dongeng klasik...

Hujan Pudarkan Bayangmu

Entah kenapa lagi-lagi aku memikirkanmu. Entah kenapa pula lagi-lagi kau hadir disela-sela mimpi indah tadi malam. Entah kenapa kamu masih terus mengirimkan pesan singkat untukku. Ah, sudah terlalu banyak kata entah yang aku tuliskan. Sebab, aku masih harus menyatu dalam kepura-puraan yang nyata. Mungkin sudah lama kita tidak jumpa, Ji. Sedikit kata rindu memang yang sering terbesit dalam pikiran. Bayang-bayangmu masih terus ada di pelupuk mata. Rangkaian kata indah yang maish terus kau lantunkan. Seolah tak pernah henti untuk selalu menciptakaan siksaan batin. Aku ingat terakhir kali kita ketemu, sebuah pulau nan mahsyur milik Indonesia, awal tahun lalu. Sepi pengunjung. Batuan granit tertata indah disana. Lambaian pohon ditepi laut, untuk kita. Entah apa yang membawa kita kesana.. Mengapa kita berjumpa disana.. Menjadikan bebatuan saksi bisu atas pertemuan singkat kita. Ingatkan, Ji? Bicara kenangan, aku ingat saat pertama kita bertatap. Mungkin kita tidak saling kenal, mak...

Batin pun Merindu

Batin membuncah kian tak menentu Batin menjerit, menderit, mengernyit, penuh derita Merasa nelangsa ketika sepi, seolah bumi mati Deritanya sakit, tuan. Namun, masih terbesit cinta.  Jeritannya memilukan, tuan. Namun, masih merdu mengatakan cinta. Erangannya menjijikan, tuan. Namun, ada belaian liar untukmu sang pemilik cinta. Ini benar, bukan bualan. Ada rasa rindu di batin, Rindunya ada, rindunya nyata. Sakit memang rasanya, tak mampu lagi hamba mengerang  Pilu memang rasanya, tak mampu lagi hamba menahan Gelisah memang rasanya, pada saat hamba diserang Tapi ini anugrah yang indah,  Anugrah dalam bentuk penyakit bagi hamba yang sedang dilanda rindu saat bercinta.

Kamu di Balik Sebab

Aku adalah aku, Sebab aku bukan kamu. Aku menjadi aku,  Sebab kamu tak menjadi aku. Aku berjumpa kamu, Sebab matamu kini terbuka. Aku bicara kamu, Sebab kamu mengerti frasa. Aku merindu kamu,  Sebab kamu membuat sendu. Aku menunggu kamu,  Sebab kamu hilang tak menentu. Aku berharap kamu,  Sebab cinta sudah diucap. Aku berpikir kamu, Sebab kamu telah hadir. Aku terus berkata, entah pada siapa. Karena jika Tuhan mendengar, Ia pasti tahu kepada siapa. Dengerin soundcloudnya disini :)

Panggilan dari Hati tentang Hati

Gambar
Kebahagiaan itu sederhana, ketika seorang sahabat dari Yk menghubungimu, tentu saja dengan sebuah alasan. Tontonan kompetisi pencarian bakat menyanyi itu masih menemaniku. Suara salah satu finalisnya begitu hangat di telinga, membuat mata semakin mengantuk. Iya, ini memang sudah larut malam tapi aku masih belum bisa untuk bertemu denganmu dalam mimpi panjang tak berkesudahan. Dering handphone ku begitu nyaring, membuatku sedikit terkejut. Sebuah nama yang tak asing lagi tertulis dilayar. Sedikit keterkejutan itu mungkin juga dirasakan oleh seorang di ujung telpon sana. Suara itu makin khas, makin merasuki hingga sudut pikiranku. Jiwa ini laksana kasih tanpa kekasih, diam seorang diri dalam sekam yang terbakar panasnya cemburu dibalik dua sejoli yang sedang beradu cinta diatas kepedihan batin yang mendalam. Lama sudah aku menyimpannya, menata rapi perasaan aku begitu bertemu denganmu. Lagi, aku mendengar suara khas mu itu. Mencoba membawanya dalam dunia nyata, ya malam ini entah...

Gadis ini yang Lebih Dulu

Gadis ini mencintaimu lebih dahulu. Sebab, gadis ini mengenalmu lebih lama dari pada gadis itu. Seperti hari hari yang telah lalu, gadis ini selalu menunggu datangnya malam yang kian larut hanya untuk menunggumu yang jauh di benua orang hanya sekedar melepas rindu, perbedaan waktulah alasannya.  Tapi mengapa kamu menyembunyikan sebuah kisah cinta indah sejak setahun lalu yang kamu ukir bersama gadis itu, padahal kamu tahu gadis ini mencintaimu dengan seluruh perasaan batinnya? Dan seharusnya kamu tahu dia telah mencampakan banyak laki-laki yang menginginkannya demi kamu, tapi ini kah balasamu? Terlalu menyakitkan untuk perasaan seorang gadis seperti ini. Gadis ini terlalu lugu untuk kamu bodohi, dia suda meracuni dirinya sendiri dengan kata kata cinta. Dia terlalu kecil untuk tahu ini semua.  Seharusnya kamu tahu, gadis ini mencintaimu sejak hari pertama kalian berkenalan dilapangan sekolah pagi itu. Gadis ini memang tak tahu banyak tentangmu, tapi dia selalu menantik...

Ini Sebenarnya yang Ingin Aku Katakan

Halo, Apa kabar?  Masih ingatkah pada diriku? Sudahlah, aku tak perlu jawabanmu. Aku tahu kamu bahagia sekarang bersamanya. Sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan hal ini padamu, menyampaikannya secara langsung bukan melalui tulisan. Tapi aku tak memiliki keberanian, aku hanya berani menyampaikan ini melalui tulisan yang mungkin kamu tidak akan pernah membacanya. Jauh sebelum kamu mengenal dia, aku sudah memiliki rasa ini padamu. Semenjak kita sering menghabiskan kebersamaan itu, menikmati rintik hujan dikala senja, menyatu dalam tawa melihat matamu yang tinggal garis, keseriusan ketika beradu pada butir butir soal yang kejam, berlomba menghabiskan makanan dalam piring kita, menepuk nepuk pundak ketika ada hal yang kita anggap lucu. Seringkali aku merasa nyaman ketika bersamamu, apa kamu juga merasa seperti itu? Mungkin tidak. Pernah dengan sengaja aku mengirim pesan singkat untukmu, karena aku rindu. Aku betah berlama-lama dalam hal apapun jika itu melibatkan kam...

Diam itu Milikku

Dalam diam aku masih mengagumimu mungkin lebih bisa jadi itu cinta, dalam doaku masih selalu menyebut namamu, dalam setiap ingatan masih sering terputar memori indah tentangmu, dan dalam setiap hembusan nafasku selalu ada dirimu. Aku memang lebih memilih tertawa, karena aku sedang tak ingin bercerita mengapa aku bersedih. Ada sebab mengapa aku tak ingin terlihat sedih. Meskipun aku tahu air mata adalah cara bagaimana agar mata berbicara ketika bibir ini sudah tak mampu untuk berbicara. Tetesan itu harusnya sangat bermakna bukan tanpa makna. Jika saling mencintai itu indah, aku mau. Tapi bukankah mencintai itu bukan jaminan untuk bahagia? Bagaimana dengan perhatian, kasih sayang, dan ketulusan? Apa itu hanya gurauan darimu selama ini? Mungkin cinta ini tak terbalas, mungkin cinta ini tak pernah ada ujungnya, mungkin cinta ini perjuangan, mungkin cinta ini pengorbanan, mungkin juga cinta ini palsu. Entahlah, aku tak tahu jenis yang mana. Aku menangis dalam tawaku, rupanya diam...

(Bukan) Mantan Kekasihku

Teruntuk kamu, lelaki yang pernah berkenalan dengan ku melalui mimpi. Ketika aku membuka mata ini tadi pagi, aku masih merasakan hangatnya sang mentari pagi, dinginnya udara luar yang bercampur embun, dan aku masih bisa mendengar kicauan burung serta suara kokok ayam. Mata ini masih bisa melihat sejoli yang berjalan bergandengan tangan diujung jalan sana, apakah kebahagiaan hanya milik mereka berdua? Aku juga ingin merasakan kebahagiaan itu.... Namun, separuh kebahagiaan dari dalam hati ini sudah kamu bawa pergi untuk mencari kebahagiaan yang lain. Sebenarnya kehilangan kamu itu nggak berarti apa apa buat aku, hanya saja kamu pergi dengan membawa kebahagiaan milikku. Kembalikan kebahagiaan itu kepadaku, maka carilah yang lain. Jangan kamu biarkan diri ini untuk selalu mengingatmu, karna kamu bukan seorang pahlawan yang ikut memperjuangkan bangsa ini maka jasamu harus selalu diingat. Kamu hanyalah sebagian dari masa laluku.. Bukan, kamu bukan mantan kekasihku, bukan pula m...

Senja Hari Itu

Dikala senja, aku lebih sering menyandarkan punggung ini pada mu. Menikmati hembusan angin yang menerbangkan poniku, serta membawa aroma mu.  Matahari tepat dibawah cakrawala saat itu, sudah tak ada lagi yang bisa dibedakan sekali pun itu bintang, dirimulah bintang. Ketika kita tak lagi melihat keatas, tak lagi melihat langit, kita tak akan pernah tahu kebebasan yang kita miliki saat ini begitu luas bila kita nikmati. Seiring berjalannya waktu kita semakin sering bersama untuk melakukan sebuah perjalanan panjang kehidupan. Berjalan di bawah langit biru nan megah beralaskan bumi yang terus berotasi tiada henti. Melihat keindahan yang teah Tuhan ciptakan sungguh itu luar biasa. Senja hari itu tidak biasa, langit hitam nan kelam membawa kita dalam sebuah pelukan hangat nan syahdu. Tak ada halilintar, tapi ada suara jeritan yang begitu menusuk telinga. Jeritan hati ini, tak bisa ditahan lagi. Bahkan dalam jarak yang sedekat ini aku masih tak percaya itu kamu. Karna selama ini y...

Aku dan Perasaanku

Salam dari Kota Khatulistiwa untukmu di Yk. Ibarat kata sang penulis sajak, rinduku bukanlah hal benar.  Sayangku bukanlah hal yang nyata. Cintaku hanyalah cinta karbitan, yang ada jika kamu ada dan hilang jika kamu menghilang. Yang nyata dan yang benar hanyalah rasa kagum ku. Tak lebih dari itu, dan tidak akan pernah lebih!  Dari jauh aku mengawasi mu, melihat mu dengan kedua bola mata ku. Tak boleh ada siapapun disisi mu.  Aku tahu bahwa ini terlalu berlebihan tapi inilah wujud dari rasa kagum ku. Tulisan ini sebagai bentuk rasa syukur ku pada Tuhan yang menciptakan makhlukanya seindah dirimu, sehebat dirimu, setegar dirimu, dan sekokoh kekuatan mu dalam menompang diri. Tuhan juga telah mengizinkan aku untuk bertemu dengan dirimu, berkenalan, dan akhirnya kita sejauh ini.  Jika melihat kebelakang apalah artinya upacara bendera senin itu saat kita SMP yang telah menunjukan aku sosok pemimpin upacara saat itu yang akhirnya mengajak ku untuk be...

Kamu di Kota Hujan

Teruntuk mu, sosok lelaki tangguh yang selama ini menghilang... Delapan tahun silam, aku mengunjungimu di kota hujan. Kamu masih sama seperti dulu, hanya saja saat itu kamu terlihat lebih besar. Iya, karena umurmu sudah tidak muda lagi. Kamu sudah 16 tahun waktu itu dan aku masih saja seorang anak ingusan yang mengikutimu dari belakang. Kamu masih dengan luwesnya mengelus rambutku, menertawai tingkah laku ku, dan membelikanku ayam goreng ditepi jalan. Terkadang kamu juga masih mendengarkan cerita-cerita lucu yang dapat membuatku tertawa. Masa kecil kita memang indah. Lebih indah karena kita menjalaninya bersama. Setiap hari selalu bersama. Disaat aku lahir kedunia ini, aku rasa kamu juga sangat bahagia, iya kan? Itu terbukti dengan perhatian dan sayang yang kamu beritan tulus padaku. Kamu mengajariku segalanya, kamu yang mengajakku bermain ke taman komplek, dan kamu juga yang mengajariku bermain kelayang. Apa kamu masih ingat a' disaat kamu mengajariku bermain sepeda?...