Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Diam-Diam Suka

Cuaca siang ini sudah diluar akal manusia, panas sekali. Mungkin kalau akau meletakkan telur dijalan aspal, telur itu akan masak. Bisa jadi. Aku benci kenapa ibu bertekad menyekolahkanku di tanah Khatulistiwa, sudah ku bilang disini panas sekali, aku benci keputusan ibu. Sudah tahu zaman semakin tua, kerusakan ozon dimana-mana, es dikutub mulai mencair disebabkan panas bumi, sekarang aku seperti menyerahkan diri kelubang api. “Heh, gadis aneh ngapain kau duduk disitu?” teriak seorang laki-laki ke arahku. “Bukan urusanmu!” jawabku seperlunya. “Sudahlah, Ris. Jangan isengin orang terus.” “Udah tau panas, bukannya berteduh malah manggang diri dibawah matahari. Dia pikir ini Eropa kali ya, bisa berjemur…” Keduanya lalu tertawa lepas. Aku kesal dengan dua orang murid laki-laki yang baru saja menertawakanku. Siapa sih mereka? Tapi memang benar sih, ngapain juga aku duduk dikursi taman yang tidak ada pohon pelindungnya. Aku bergegas menuju kelas, sebentar lagi bel masuk aka...

Tuhan... Aku Sakit!!

Sejak lahir mungkin aku sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menderita menyakit seperti ini. Kata dokter yang membantu persalinan mama, usiaku tidak akan pernah lama. Penyakit serius telah bersarang di organ vitalku sejak aku masih dalam kandungan mama. Tapi aku tidak pernah menyalahkan mama. Aku sangat berterimakasih pada mama yang telah melahirkanku ke dunia, sehingga aku tahu bagaimana rupa kehidupan dan seperti apa aku harus menjalani kehidupan dengan kondisi ku yang seperti ini.  Aku belajar berjalan lebih awal dibanding dengan anak-anak seusiaku. Namun, saat berjalan aku sering terjatuh. Dokter bilang aku kekurangan kalsium, sehingga aku pun melakukan suntik kalsium ditempurung lutut ku. Tapi mereka tidak pernah tahu, pandanganku sering kabur dan perutku selalu merasa mual saat aku habis menelan sesuatu. Ayah menyadari kondisiku yang begitu lemah, hingga pada tahun kedua aku dibawa kedokter spesialis saraf di Jakarta. 

Kamu, akankah untukku? (Part 2)

Juli, 1957. Kapalku akan berlayar malam ini menuju pelabuhan Pontianak. Aku yakin dirimu tidak tau tempat itu, begitu pula aku. Tapi tenang saja, tidak perlu cemas. Aku merantau disini tidak sendiri, aku tinggal bersama ayah angkatku. Aku diterima menjadi seorang tentara, aku bangga, aku bahagia. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini denganmu. Tapi apa daya, aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu. Aku ditugaskan dikota kecil diujung Kalimantan Barat, Singkwang namanya. Orang menyebutnya sebagai kota amoy. Ya, aku setuju dengan julukan itu karena disini banyak sekali orang-orang Cina, bahkan aku yakin orang Cina berasal dari kota ini. *** Waktu sudah berjalan hampir 3 tahun lamanya. Bukannya aku lupa denganmu. Tapi aku harus menjalankan tugas ini. Tugas sebagai seorang tentara.  Disuatu malam terpikir dibenakku, kenapa ayah menyuruh menjadi seorang tentara dan tinggal bersama ayah angkatku di Kalimantan. Aku tahu alasannya. Ini semua karena ibu ingin menjauhkan ki...

Kamu, akankah untukku?

Ini tentang sebuah pengabdian cintaku padanya. Pada sosok wanita yang berhasil memikat hatiku berpuluh tahun silam. S aat itu aku seorang remaja biasa, menghabiskan hari-hariku bersama para sahabat. Menjalani masa-masa SMA ku dengan penat. Hingga akhirnya Tuhan menciptakan mahluknya yang lain untukku, untuk hamba yang belum mengenal cinta. Februari 1956. Sosok mu terlintas dipandanganku. Bukan suka yang ku rasa, tapi kekaguman. Detik itu juga. Aku mencoba mencari tahu tentangmu, segala tentangmu. Aku mulai menulis tentangmu, tentang keindahan dan kesempurnaan yang telah Tuhan hadirkan di bumi. Aku bersyukur bisa melihatmu, terlebih memilikimu. Semoga saja. Seperti biasa sepulang sekolah aku selalu bercerita pada ibu tentang bagaimana sekolah ku hari ini. Berapa nilai yang ku dapat di pelajaran matematika? Apa ada guru yang tidak masuk? Apa saja kekacauan yang terjadi dikelas hari ini? Dan ceritaku hari ini penuh dengan nama mu. Sepertinya aku jatuh cinta, jatuh cinta pada p...

Malam Opera ?

Kisah ini bermula saat seorang temanku meminta aku untuk menemaninya pergi ke sebuah tempat. Ia menyebutnya "penghanyutan malam" dan aku tidak tahu apa itu. Temanku bilang kita bisa m enceritakan semua keluh kesah dan beban hidup yang kita rasakan dan kita akan mendapatkan bayaran sebesar 1 Euro. Memang terdengar agak aneh, tapi ini seperti kenyataan. Jadilah aku pergi ketempat yang dimaksud. Tepat itu seperti rumah dukun dadakan, ya dadakan. Hanya menggunakan tenda darurat. Aku tak diperbolehkan masuk, aku hanya menunggu di parkiran depan tenda. Sepi. Sendiri. Tak berapa lama kemudian temanku kembali menghampiriku. Lalu aku bertanya, “Sudah?” dia hanya mengangguk.  Dengan rasa penasaran aku masuk ketempat itu. Rasa penasaran itu membawaku duduk dihamparan tikar depan tenda itu.. Disana aku menemui banyak orang. Namun, yang wajahnya jelas dihadapanku hanya dua orang yang sedang berbicara. Dua orang laki-laki yang sebaya denganku. Kedua laki-laki itu tampaknya s...

Diary Tante Mary

Disuatu siang aku   sedang menjemput Eni yang baru saja tiba dari Bogor. Eni pulang dengan membawa gelar S.Pd, ia juga menjadi lulusan terbaik tahun ini dengan IPK 3,95 nyaris sempurna. Eni berharap prestasinya bisa membuat Mamanya bangga. Jalanan macet siang itu, kendaraan sudah tak terarah lagi. Untung saja supir taksi yang membawa kami sigap ia membawa kami melewati jalan-jalan kecil sehingga kami bisa sampai di rumah dengan segera. Daan Mogot, Brogol Petamburan, Jakarta Barat sebuah rumah tua diam dihadapan kami, kami pun berbalik memandanginya dan tersenyum. Tanpa ragu Eni membuka gerbang sudah ditumbuhi dengan benalu dan menyusuri pekarangan yang cukup luas. Empat tahun lalu rumah ini masih ramai dengan suara canda Nita, adik Eni sebelum akhirnya dia meninggal karena tumor ganas yang bersarang dikepalanya. Aku duduk di ruang tengah, tepatnya di sofa kuning yang letaknya paling pojok. Terdapat banyak sekali debu disana sehingga aku perlu membersihkan sofa itu sebelum m...

Inikah Rindu? Mungkin Iya

Ia mengunjungi aku di negeri ini. Tanpa memberitahuku sebelumnya, bahkan aku tak tau maksud dan tujuannya. Ia rela menyebrangi samudra demi menuju benua yang ada aku nya disana. Berlama-lama dalam pesawat. Melalui proses yang panjang. Ya aku rasa dia merindukanku. Setelah sekian lama kami tak bertemu.