Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Kilas Balik Kehidupan SMA

Gambar
Sebuah kerinduan datang tiba-tiba, tanpa terasa, tanpa diundang, semuanya berlangsung begitu saja . Detik-detik menuju 6.45 menjadi salah satu tontonan yang sangat dirindukan. Puluhan murid tak jarang memohon dengan wajah memelasnya agar pak Jemingan mau memberikan barangkali sedikit celah untuk dirinya. Selamatlah bagi mereka yang mendapatkan hadiah berupa toleransi beberapa menit, tapi tidak bagi mereka yang harus duduk menatap deretan besi hitam tinggi menunggu guru piket memberi tugas, seperti berada didalam penjara terbuka. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, cocok bagi mereka yang datang terlambat, disuruh bersihin sekolah, masuk di jam pelajaran kedua, begitu masuk langsung pre test mate-mati-ka pula. Kalau sudah seperti ini tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri dan keberuntungan, sahabat pun perubah menjadi orang yang paling menjengkelkan. Sudah di suit suitin - ditendang kursinya - masih saja berlagak bodoh. Sahabat macam apa itu? Fiuuh.

The Do’s And Don’ts

Gambar
“Do’s and Don’ts” is a popular phrase, tapi manakah yang benar don’ts atau don’t’s? "Dont's" makes no sense because the apostrophe for the contraction is missing, but the second apostrophe in "Don't's" is unnecessary. Very confusing isn’t it? Gue nggak akan mengajak kalian berdiskusi tentang bagaimana cara penulisan yang benar, karena sesungguhnya gue pun kurang paham dengan perbedaan dari don’ts dan don’t’s. Yang gue tahu DO lakukan dan DON’T jangan dilakukan. Makna don’t disini nggak gue artikan dengan ‘jangan’, melainkan tindakan yang harus ‘hindari’. Karena apa? Entahlah, silahkan kalian simpulkan sendiri.

'Ah Sudahlah Ya' It means Kalau Iya Gimana?

Kepada tuan pemiliki jiwa yang tangguh, dan hati yang suci.. Tuan, tahukah rasanya derita? Derita itu saya definisikan sebagai saya yang masih menyatu dalam kepura-puraan, pura-pura tidak mencintaimu, pura-pura tidak membutuhkanmu. Ingatkah tuan tentang kunang-kunang? Tetap terang meski sekitarnya gelap, seperti yang pernah tuan katakan kepada saya. Saya harus menjadi seperti kunang-kunang itu, tapi saya lebih senang menyebut diri ini sebagai bintang. Karena bintang butuh cahaya matahari. Seperti saya yang membutuhkan tuan agar bisa bersinar. Saya pernah bercerita tentang bintang yang selalu punya cara untuk mencintai lelakinya, meski itu dengan cara merelakan. Lebih baik bintang sakit daripada menyakiti. Indahnya cahaya bintang, meski itu hanya pantulan. Tapi keindahan bintang memang terpancar dari dalam dirinya. Begitulah bintang, lelakinya pun tau.  Tuan pernah bertanya kepada saya, tentang Apakah Saya Mencintai Tuan? Tapi masih ingatkah tuan dengan jawab saya? ...

Fenomena Bocah Penjual Diri

2013 – Segalanya sudah instan. Pelajar, mereka tidak perlu repot-repot mencari referensi kesana-kemari dalam menyelesaikan tugasnya, seorang guru tidak susah lagi dalam mencari bahan ajar, bahkan pengangguran sekalipun, mereka bisa mencari pekerjaan dalam sekali klik. Informasi sudah diujung jari , begitulah istilah gaulnya. Kemudahan yang kita rasakan saat ini merupakan buah usaha dari kerja keras orang-orang terdahulu. Maka berbahagialah kalian yang merasakan kenyamanan dan kepraktisan di era digital seperti sekarang. Segala sesuatu pasti ada sisi baik dan buruknya, begitulah kira-kira efek dari kemajuan terknologi saat ini. Seperti yang sedang marak terjadi akhir-akhir ini, fenomena pelajar yang rela menjual diri demi mendapatkan apa yang diinginkan. Menyedihkan sekali kedengarannya, tapi itulah yang terjadi di Indonesia kita tercinta. Entah karena alasan apa dan dorongan dari mana mereka mau ‘menjajakan tubuh’ demi kepuasan lelaki petualang. Hina sekali.