Diary Tante Mary
Disuatu siang aku sedang menjemput Eni yang baru saja tiba dari
Bogor. Eni pulang dengan membawa gelar S.Pd, ia juga menjadi lulusan terbaik
tahun ini dengan IPK 3,95 nyaris sempurna. Eni berharap prestasinya bisa membuat Mamanya bangga.
Jalanan macet siang itu, kendaraan sudah tak terarah lagi. Untung saja supir
taksi yang membawa kami sigap ia membawa kami melewati jalan-jalan kecil
sehingga kami bisa sampai di rumah dengan segera.
Daan Mogot, Brogol Petamburan,
Jakarta Barat sebuah rumah tua diam dihadapan kami, kami pun berbalik
memandanginya dan tersenyum. Tanpa ragu Eni membuka gerbang sudah ditumbuhi
dengan benalu dan menyusuri pekarangan yang cukup luas. Empat tahun lalu rumah ini masih
ramai dengan suara canda Nita, adik Eni sebelum akhirnya dia meninggal karena
tumor ganas yang bersarang dikepalanya.
Aku duduk di ruang tengah,
tepatnya di sofa kuning yang letaknya paling pojok. Terdapat banyak sekali debu
disana sehingga aku perlu membersihkan sofa itu sebelum mendudukinya. Rumah ini
sepertinya sudah tidak terawat lagi, berantakan. Barang-barang yang dulu
berjajar rapi kini mulai berserakan. Terpajang foto almarhum Nita disebuah
bingkai cantik.
Tak berapa lama Om Amir, Papa Eni, keluar
dari sebuah ruangan, ada yang berubah dengannya. Ia terlihat lebih kurus dengan
mata yang lebih cekung.
“Hallo Om, kelihatannya cape? Istirahat aja.”
“Ah nggak kok, om hanya kurang
tidur.” Jawabnya, sesaat ia mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Apa kabar Tante Mary, Om?” Tidak
ada jawaban, ku lihat Om Amir memandangi foto Nita dan matanya mulai memerah.
Disaat yang bersamaan terdengar jeritan keras dari kamar
depan. Buru-buru Eni membuka pintunya dan jeritan pun mereda. Air mata yang
sempat tertahan itu, akhirnya jatuh juga melintas di pipi tua Om Amir.
“Beginilah keadaannya, Shel.”
Aku tidak mengerti, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Om Amir berdiri, ia menggiring ku. Memperlihatkan kepadaku
bahwa sosok yang ada disana , yang terdiam dalam dekapan hangat Eni, dengan sisa
tangisnya ia adalah Tante Mary dengan penampilannya yang awut-awutan.
Om Amir memberikan sebuah buku kecil kepadaku, diary Tante
Mary. Aku membukanya, membacanya perlahan. Di sana tertera sebuah foto sang
suami “Amirullah”. Dilembar kedua terdapat foto Eni yang bertuliskan “Buah hati
pertamaku” dan dilembar ketiga ada foto Nita bertuliskan “Bidadari kecilku,
betapa aku mencintaimu”….
Dilembar ke sepuluh aku menemukan tulisan Tante Mary, aku
membacanya perlahan. Sejenak aku terdiam sembari melihat kepada si empunya buku
yang sedang tertawa dalam tangisnya.
“Mama jadi seperti ini setelah kepergian Nita, kita sudah
membawanya ke psikolog, bahkan terapi di Singapura tapi sama sekali nggak ada
hasil. Sampai pada akhirnya kami menyerah. Kami nggak kuat, Shel” Jelas Eni.
Penyebab Tante Mary sepeti ini tidak lain adalah karena
kepergian Nita, ia begitu mencintai Nita. Sampai pada akhirnya Nita merenggut nyawa
saat ia sedang menjalani operasi pengangkatan tumor yang menyerang salah satu
organ vitalnya. Sulit bagi Tante Mary untuk menerima kenyataan itu. Om Amir
pernah mengatakan sesuatu kepada ku, bahwa sebenarnya mereka menyesali operasi
tersebut. Andai saja mereka bersabar dengan tidak terburu-buru untuk melakukan
operasi mungkin Nita tidak pergi secepat ini…
Aku terdiam, tak berani berkata apapun. Melihat keadaan
seperti sekarang ini mungkin ada baiknya jika aku pergi, aku tidak ingin mengingat
hal hal yang juga pernah menimpa Mamaku.
Komentar
Posting Komentar