Berpura-pura itu Perlu


4.35 pagi alarm dihandphone selalu berbunyi membangunkan si pemiliknya agar segera melaksanakan kewajiban. Saya percaya, bangun dipagi yang samar akan membuat kita lebih bersemangat. Sebelum meninggalkan tempat tidur, saya juga selalu memeriksa handphone, melihat temperature suhu yang tertera dilayarnya. Ya begitulah, handphone canggih masa kini, bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga merangkap fungsi sebagai thermometer, pemutar music, alat untuk berselancar diinternet, dan pengabadian gambar. Terlalu jauh dari fungsi sebenarnya tapi cukup bermanfaat bagi orang-orang modern masa kini, serba instan.

Selalu. Saya selalu kedinginan dipagi hari. Pertama, karena suhu udara yang tidak pernah menunjukan angka diatas 20 derajat celcius. Kedua, karena memang saya belum terbiasa dengan cuaca dingin. Terburu-buru dikamar mandi, kemudian mengeringkan badan sudah seperti rutinitas pagi yang makruh dilewati. Menggunakan mukena kebesaran, dan rasanya tidak ingin saya lepas meski kewajiban telah dilaksanakan. Leyeh-leyeh sambil membalas pesan singkat dari teman-teman yang tersebar dipermukaan bumi, menyiapkan sarapan pagi. Energen hangat dengan pisang rebus, atau dancow cokelat. Tidak pernah kopi atau teh dipagi hari. Tapi rupanya kehangatan segelas energen tidak bertahan lama. Masih lebih lama panasnya semangkuk indomie rasa soto dengan perpaduan satu telur, dan satu centong nasi. Bukan, bukan panas melainkan hangat.

Saya selalu terburu-buru ketika mandi, dan menggunakan pakaian. Bukan karena mepet waktu, tapi ya karena dua alasan yang sudah saya sebutkan diatas. Setelah semuanya siap, saya masih harus memeriksa isi tas; payung, buku-buku, handphone, dompet, alat tulis, mukena, dan bekal; sebotol air putih, sebotol air berasa, dan beberapa snack. Sebotol air berasa sebagai bekal selama saya berjalan kaki selama sepuluh menit atau lebih dari rumah menuju jalan besar sambil menunggu angkot yang akan mengantarkan saya. 

Ketika angkot biru kuning itu datang, saya selalu mengambil tempat duduk paling nyaman dan tentu saja kosong. Menghabiskan setengah jam atau lebih didalamnya, bersama penumpang lain dengan beragam tipe. Memutar playlist yang isinya koleksi Sheila on 7 dari album pertama hingga yang terakhir-lengkap. Sambil kadang terganggu dengan nyanyian asal dari pengamen yang keluar masuk. 

Sudah setengah jam saya berada didalam angkot yang mulai sesak ini tapi belum sampai juga. Apa saya salah tujuan. Semoga tidak. Ini bukan kali pertama saya naik angkot seorangan. Gelisah, rupanya bukan saya sendiri yang gelisah tapi semua penumpang. Karena mereka harus sampai dikantor sebelum atasan datang, sedangkan saya harus sampai sebelum Frau Lidya memulai kelas. 

Usut-punya usut, sang sopir harus memutar arah karena beberapa jalan ditutup. Pantas saja. Lama… kemudian. Sang supir berteriak, “Riau… riau!” Beberapa penumpang turun, saya? Bingung. Iya betul riau adalah tujuan saya, tapi mana gedungnya. Oh God! Rupanya saya belum hapal betul daerah tempat saya menuntut ilmu bahasa ini. Beberapa penumpang turun, dan saya ikut turun. Diam sejenak ditrotoar, melihat ke kanan-kiri-depan-belakang ke arah mana saya harus melangkah. 

Ke kanan. Ya, mungkin. Sebab saya melihat orang lebih banyak jalan kearah sana. Saya ikuti saja pelan-pelan dari belakang. Jam juga masih kurang 15 menit lagi sebelum kelas dimulai, ya setidaknaya masih cukup waktu kalau-kalau saya nyasar. 

Pak satpam yang selalu memamerkan barisan gigi putihnya, deratan mobil yang terparkir tidak karuan, dan kursi kantin yang dipenuhi orang-orang sambil menunggu pintu kelas dibuka. 

“Hai, Ra! Sini!” Ah, sudah pasti itu suara Luken yang suka sekali meneriaki orang.

Hanya ada 4 kursi dan semuanya sudah penuh. “Sudah selesai tugasnya?” 

Saya melihat wajah lelaki yang berdiri diseberang saya mengkerut, “Tugas apa?” katanya.

“Kamu selalu begitu, tugas bab 1, Dipo!” Jawab Gina, mahasiswi yang jelas mahir memainkan berbagai alat musik.

“Kalian sudah siap ‘Im CafĂ© test’ hari ini?” Beberapa orang menggeleng. Saya bingung harus menggeleng atau menganggung. Kalau menggeleng tentu saja saya berdusta, karena saya sudah sangat siap dengan tes itu, saya selalu penasaran dengan soal-soal. Tapi kalau saya mengangguk itu akan membuat mereka berpikiran ‘Ah, tidak perlu belajar. Toh, nanti juga bisa nyontek!’

-----

Kelas dimulai. Sebelum tes dimulai kami diberi soal-soal latihan. Lancar kami menjawab, soal-soal tersebut masih tergolong mudah. Terbuai dengan kemudahan soal, kami lupa bahwa beberapa menit lagi tes yang sesungguhnya dimulai.

Selembaran soal mulai dibagikan. Dahsyat! Rupanya kami harus mengerjakan 3 jenis tes dalam waktu 15 menit, yang masing-masing satu bagian terdiri dari 15 soal pula. Ini tidak lebih fantastis daripada tes matematika zaman SMA dulu. Satu lagi, setiap orang mendapat soal yang berbeda. 

Masih dengan terburu-buru. Saya membuka soal. Menaburkan pandangan ke kanan-kiri, menyaksikan berbagai ekspresi lucu teman-teman sekelas. 

“Susah… yang ini apa?” Kata orang disebelah kiri sambil menyikut lengan saya.

“Emmm.. saya juga tidak tahu. Duh, soalnya..” 
Sepuluh menit berjalan cepat. Beberapa lembar kertas dihadapan saya ini tidak boleh dikumpulkan sebelum waktu berakhir, dan orang-orang masih dalam kesulitan masing-masing soalnya. Saya juga (berpura-pura) kesulitan. Membolak-balik kertas soal dengan wajah gusar. Licik. Ya, terkadangan kita juga perlu berpura-pura.

Komentar

  1. itu isi tas banyak amat, mo naik gunung apa mo kabur dari rumah?
    kadang kepura-puraan juga perlu demi melindungi perasaan orang lain

    BalasHapus
  2. Widih pinter banget matematika nih kelihatannya ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khaaakh... nggak kok nggak, mukaku milip aturan logaritma ya?

      Hapus
  3. waaah aku juga sering tuh gitu,,waktu jaman ujian pas kuliah,,sering selesai tes duluan trus pura2 masih blum selesai karna waktunya masih,hehe :p
    salam EPICENTRUM mampir ya kakaak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir mas, woke kunjung balik :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan