Ada Nikmat yang Tuhan Berikan
Ada yang bisa dilakukan setiap
akhir pekan tiba. Meski sudah lelah dalam aktivitas dihari-hari sebelumnya,
bermalas-malasan bukanlah alasan. Tetapi ada yang memaksa untuk menjadi malas,
lambaian kasur yang menawarkan kenyamanan, selimut yang menjanjikan kehangatan,
guling yang dapat dipeluk dengan liar, dan dinginnya cuaca yang mendukung itu
semua. Ahh, saya harus bisa move on dari kasur dipagi minggu yang dingin.Ternyata
move on dari kasur itu lebih sulit daripada melupakan gebetan-gebetan paling
php didunia, karena kasur sudah menjanjikan banyak hal.
Buru-buru saya bersiap, pagi
minggu yang cerah ini sayang untuk dilewatkan meski hanya sekedar mencari
sarapan sambil melihat hiruk pikuk aktivitas manusia lainnya. Berangkat dari
rumah bersama saudara, sempat terjebak macet, mencium aroma tai kuda yang
sangat menggelitik hidung, kemudian membeli minum di kantin masjid Salman.
Jalanan yang biasanya ramai dengan
suara klakson, barisan mobil, mendadak berubah menjadi lautan manusia, pedagang
dikiri-kanan jalan, dan berbagai macam musik yang diputar disetiap stand.
Berjalan dari ujung ke ujung saya rasa sudah cukup membakar kalori. Saya rasa…
Setelah matahari semakin tinggi,
kami memutuskan untuk mengelilingi kampus ITB. Melihat bangunan yang tampak
rapi, lingkungan yang asri, dan.. aha ada parkiran sepeda yang bisa dipinjam.
Baiklah, kami akan meminjam satu. Berkeliling dengan sepeda, bukanlah pilihan
yang buruk, bisa lebih menghemat tenaga meskipun kampus ini tidak begitu luas.
Matahari semakin tinggi, perut
sudah lapar, kami memutuskan pulang sambil mencari sarapan, yang sebelumnya
kami sempat mampir dipasar Kosambi, membeli beberapa jajanan untuk dirumah. Jalan
menuju pulang, kami sempat melalui jalan kepatihan yang sudah rapi tanpa
pedagang kaki lima, dikiri kanan jalan sudah ditanami pohon-pohon dalam pot
besar, dan beberapa becak yang menunggu pelanggan.
Sesampai dirumah ternyata sudah
ada saudara yang menunggu. Wah, moment seperti ini jarang sekali. Hari
minggu-semuanya lengkap dirumah-ditambah lagi kedatangan saudara- biasanya
disibukan dengan kegiatan lain atau tidur berjamaah sampai sore. Kami makan
siang bersama, memanjakan perut dengan sayap ayam yang sangat menggoda, melahap
buah mangga yang tergulai lemas, dan kopi-kopi imut. Menjelang sore sedikit
kami kedatangan tamu (lagi) dan hujan.
Sudah makan, sudah kenyang,
hujan, tinggal ngantuknya. Mari kita tidur.
Setelah magrib hujan semakin
reda. Kami memutuskan untuk pergi mencari makan malam bersama, ke.. punclut.
Apa itu punclut? Dataran tinggi di kota Bandung yang menawarkan keindahan
dimalam hari dengan lampu-lampu kota yang tersebar seperti bintang yang
bertaburan dilangit. Udaranya lebih dingin dan perlu perjuangan untuk sampai
disana.
Bersama kami teguh, berpisah kami
runtuh. Akhirnya kami memilih sebuah tempat makan yang sudah agak keatas.
Betapa bahagianya punya saudara-saudara yang romantis, diajak ketempat seperti
ini. Ternyata kebahagiaan itu lebih sederhana, dan benar-benar nyaman ketika
dihabiskan bersama orang-orang terdekat.
Menjelang tengah malam kami
pulang. Setelah perjuangan melewati tanjakan, akhirnya kami harus melewati
turunan yang tiada habisnya. Kendaraan di semakin melaju, sambil tangan dan
kaki bersiap menahan rem. Rasanya tidak beda ketika naik kora-kora di dufan
ketika wahana turun kebawah. Darah berdesir semakin cepat, rasanya ingin
berteriak dan menutup mata. Tapi sangat disayangkan jika itu dilakukan. Masih
ada pemandangan dan hawa sejuk yang bisa dinikmati.
Keseruan apalagi yang akan kami
lakukan selanjutnya? Entahlah.. Kami pun tidak tahu, meski sudah ada
rencana-rencana didalam kepala, tapi kami tidak mau hanya menjadi wacana sebab
hanya dengan ridho Tuhan lah rencana itu akan terlaksana. Terimakasih Tuhan
atas kebahagiaan hari itu, atas keindahan yang Kau anugerahkan di muka bumi,
dan atas izinMu kami dapat menikmatinya.
Selamat berakhir pekan :)

wow.. cerita yang membahana.. entah apa yang saya tankap dari cerita tadi..
BalasHapuscoba baca sekali lagi, biar paham.
Hapus