Fenomena Bocah Penjual Diri
2013
– Segalanya sudah instan. Pelajar, mereka tidak perlu repot-repot mencari
referensi kesana-kemari dalam menyelesaikan tugasnya, seorang guru tidak susah
lagi dalam mencari bahan ajar, bahkan pengangguran sekalipun, mereka bisa
mencari pekerjaan dalam sekali klik. Informasi
sudah diujung jari, begitulah istilah gaulnya. Kemudahan yang kita rasakan
saat ini merupakan buah usaha dari kerja keras orang-orang terdahulu. Maka
berbahagialah kalian yang merasakan kenyamanan dan kepraktisan di era digital
seperti sekarang. Segala
sesuatu pasti ada sisi baik dan buruknya, begitulah kira-kira efek dari
kemajuan terknologi saat ini. Seperti yang sedang marak terjadi akhir-akhir
ini, fenomena pelajar yang rela menjual diri demi mendapatkan apa yang
diinginkan. Menyedihkan sekali kedengarannya, tapi itulah yang terjadi di
Indonesia kita tercinta. Entah karena alasan apa dan dorongan dari mana mereka
mau ‘menjajakan tubuh’ demi kepuasan lelaki petualang. Hina sekali.
Persaingan,
kerap kali menjadi alasan utama. Rasa iri dan keinginan untuk memiliki barang
mahal membuat mereka berpikir keras. Apapun akan mereka lakukan demi terlihat
sejajar tanpa mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Mereka inilah yang
disebut korban gaya hidup hedonism. Simbol pengakuan tersebut antara lain,
memiliki telepon genggam keluaran terbaru dengan fitur paling canggih, baju
baru, penampilan mahal, sehingga bocah-bocah kelas menengah ini memaksakan diri
untuk mencari uang sendiri. Sangat
disayangkan, mereka yang melakukan
tindakan seperti itu rata-rata berada diusia pelajar. Usia mereka seharusnya
hanya memikirkan bagaimana meraih mimpi dan menjadi sukses. Usia yang masih
sangat belia, dengan emosi labil, dan belum bisa berpikir rasional.
Beberapa
bulan lalu, kita dihebohkan dengan berita pelajar SMK di Surabaya yang menjual
diri demi Blackberry melalui situs jejaring sosial. Betapa mirisnya, hanya
karena telepon genggam seseorang mau melakukan tindakan bodoh yang mengorbankan
nama baik diri sendiri, keluarga, sekolah, bahkan negaranya. Hebatnya, tindakan
tersebut mereka lakukan dengan suka rela tanpa paksaan.
Berita
penjualan diri bukan hanya dari Jakarta, Surabaya, Balikpapan, atau kota-kota
besar lainnya. Dari seluruh pelosok juga ada, hanya saja tidak terekspos, dan
mungkin saja hal seperti ini sudah biasa. Alasannya
juga hampir sama, ingin hidup mewah, serba ada tanpa harus kerja keras.
Terlebih budaya kita saat ini sudah berubah akibat tayangan televisi, film
luar, bahkan film lokal yang banyak menjajakan paha-dada para artis ibu kota
sehingga anak zaman sekarang sudah mulai melupakan budaya masa lalu yang sangat
tabu tentang seks. Maka saat ini seks sudah menjadi bagian dari gaya hidup trendy.
Seperti
yang baru saja terjadi, membagi-bagikan kondom dalam rangka memperingati hari
AIDS pada tanggal 1 Desember. Itu bukanlah budaya asli Indonesia, melainkan
budaya Amerika yang dibawa dan dengan mudahnya diterapkan di Indonesia.
Berdalih ingin mengurangi menyebaran AIDS dengan menghabiskan dana milyaran
rupiah, aksi tersebut malah mendukung perbuatan seks bebas. Ini Indonesia bukan
Amerika, bung! Budaya kita berbeda.
Ada
keganjalan disini, apakah para orang tua tidak mencurigai ketika anak memiliki
barang-barang mahal (terlebih bagi keluarga ekonomi menengah), pulang larut
malam, mulai menutup-nutupi sesuatu dan lebih sering mengurung diri dikamar.
Dimanakah peran orang tua? Yang seharusnya lebih mengawasi aktivitas anak, memperhatikan
lingkungan pergaulannya, kondisi psikologisnya, serta memberikan bekal rohani yang
cukup sebelum melepas anak. Memang, kebanyakan orang tua masa kini sudah
memberikan kepercayaan kepada anaknya, tapi itu bukan berarti seperti melepas
kelinci di hutan liar.
Zaman
memang sudah instan, tapi tidak ada cara instan untuk mencapai kesuksesan. Jika
kalian mengukur kesuksesan dengan banyaknya harta yang kalian miliki, kalian
salah. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak pengalaman dan bagaimana kalian
melewatinya. Sudah jatuh, bangkit lagikah?
Apakah hanya bocah perempuan yang
menjual diri?
Kebanyakan.
Kerena logikanya jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini
berbanding lurus dengan jumlah om-om hidung belang yang ingin melampiaskan
nafsunya tanpa harus pusing-pusing mencari mangsa, hanya dengan membayar 700
ribu hingga 2 juta rupiah mereka langsung mendapatkan ‘produk segar’. Tidak
dipungkiri ada juga anak laki-laki yang menjual diri, tapi sepertinya masih
jarang. Mereka (mungkin) lebih memilih mencuri.
Fenomena
menjual diri pada umumnya tidak hanya terjadi diusia sekolah. Tapi pada umumnya
usia ABG-lah yang menjadi kontribusi paling besar dibidang ini, bahkan yang
sedang menempuh pendidikan dengan gelar ‘mahasiswa’ sekalipun. Mereka yang
disebut ayam kampus. Pada mulanya kebingungan dengan biaya kuliah yang semakin
mahal, minta orangtua pun belum tentu langsung dikasih, sementara kebutuhan
semakin mendesak. Inilah yang menjadi akar kesalahan.
Sesungguhnya
masa depan bangsa ini ada ditangan kita, para penerus. Mau dibawa kemana dan
jadi apa bangsa ini, semuanya terserah pada kita. Sebelum kita menyukseskan
kehidupan bangsa, sukseskan dulu kehidupan pribadi kita. Dengan siapapun kita
berteman tidak pernah ada larangan. Ingat, jika kita berteman dengan tukang
bengkel, kita akan terkena olinya. Begitupun jika kita berteman dengan penjual
parfum, kita akan terkena wanginya.
Sangat
memprihatinkan dengan perkembangan yang disalahgunakan. Zaman berubah menjadi
serba ada pada kodratnya untuk mempermudah kita mencapai hal positif bukan
untuk mencari pelanggan yang mau membeli keindahan tubuh. Jika ada kanan, pasti
ada kiri. Tinggal memilih, mau menjadi baik atau sebaliknya.
Perempuan
baik, untuk lelaki yang baik. Begitupun lelaki yang baik, hanya untuk perempuan
yang baik. Sekalipun lelaki itu tidak baik, pemabuk, dia pasti akan mencari
wanita baik. Sejauh apapun perempuan baik, ia pasti akan dicari.
Semoga
tidak ada lagi bocah penjual diri. Cukuplah mata, telinga, dan hati orangtua
tersakiti dengan tingkah laku kita. Jangan seret orang tua kita ke neraka.
Silahkan
pilih, kalian mau jadi yang mana?
Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan, #CintaiHidup. Lo ingin merubah takdir? Lo harusnya sadar kalau takdir manusia tidak pernah ada yang tertukar atau meleset, karena itu sudah skrenario Tuhan. Apa yang lo perbuat pasti akan kembali ke diri lo sendiri.
Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan, #CintaiHidup. Lo ingin merubah takdir? Lo harusnya sadar kalau takdir manusia tidak pernah ada yang tertukar atau meleset, karena itu sudah skrenario Tuhan. Apa yang lo perbuat pasti akan kembali ke diri lo sendiri.
Aku milih jadi seorang yang apa adanya, walaupun (mungkin) mulai termarginalkan. :P
BalasHapussudah mulai liar ya sekarang? ((LIAR))
Hapusastagfirulloh... dunia semakin keras seiring berjalannya waktu.
BalasHapusIya nih, Shak.
HapusHidup juga semakin keras seiring perkembangan zaman.
Pendidikan harus banyak bicara bahwa tingkat ekonomi bukanlah tolak ukur sebuah kesuksesan.
BalasHapusSeharusnya dari kecil anak2 diberi pemahanam seperti itu, tapi apa daya... sejak kecil pun saya ditanamkan pemahaman kalau oraang sukses itu yang duitnya banyak :(
Hapusentahlah siapa yang salah...
Saya khawatir dan prihatin dengan negeri ini. Terutama pada manusia2nya.
BalasHapusIya, sama.
HapusTapi manusia-manusia itu tidak pernah mengakhawatirkan dirinya sendiri, mereka lebih sering mengkhawatirkan hidup orang lain, bukankah begitu?
kelakuan remaja jaman sekarang emang semakin memprihatinkan.
BalasHapuspergaulan dan peran orangtua sangat kurang
Antara salah gaul dan kurangnya peran orang tua....
Hapussaya prihatin dan khawatir dengan diri saya sendiri :( apa yang harus saya lakukan?
BalasHapussaya pun, saya prihatin dengan kamu :(
Hapussaya prihatin dengan diri saya. Sejauh apa saya bisa bertahan dibilang seksi sama orang-orang sekeliling saya. Saya sudah lelah.
BalasHapusSemoga kak aci kuat ya dibilang seksi. Btw abon juga bilang kak aci seksi :3
Hapus