Sekarang Aku Mulai Mencintaimu

Kepada Tuan, pembawa janji...

Pagi-pagi sekali, mungkin sudah menjadi kebiasaanmu menyapaku melalui pesan singkat dan aku selalu berusaha untuk membalasnya, meski pada akhirnya lebih sering aku abaikan. Maaf, bukan aku tidak peduli salam ceriamu, hanya saja aku tidak mau dunia menertawakanku yang selalu gemetaran setiap kali membayangkan bertemu denganmu, tersenyum membaca pesanmu, dan terpaku dalam kalimat 'Aku mencintaimu, Cinta!' Sungguh kamu lelaki pertama yang berhasil membuatku tertawa. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu padaku padahal kita tak pernah bertemu. Konyol.


Kamu selalu bilang ingin menjadikanku tempat berlabuh, menjadikan aku yang pertama dan terakhir, ingin hidup bersama, dan ingin meraih mimpi besar bersamaku. Bahkan kamu pernah mengatakan supaya aku percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulutmu, ah maksudku pesan singkatmu. Bagaimana aku bisa percaya, dengan semua ini? Jangan gila, deh!

Kamu tidak pernah melarangku untuk masuk dalam kehidupanmu, mengganggu kesibukanmu, dan mengajakmu berdiskusi tentang apa saja. Kamu malah membiarkanku menyelam dan mengetahui setiap sudut kehidupanmu, melepaskan rantai tanganku agar aku bebas mencubit pipimu, meninju perutmu, atau menarik ujung kaosmu dan mengajakmu duduk dihadapanku lalu kemudian kita berimajinasi tentang masa depan.

Sulit rasanya menafsirkan semua isyaratmu, kata-katamu. Apa maksudnya semua ini? Kamu ingin menipuku? Membawaku terbang tinggi, lalu kemudian melepaskan peganganku dan membiarkan aku terhempas ke bumi? Ah, semoga kamu tidak sejahat itu, sayang. Atas segala permintaanmu, aku telah mengajukan dua syarat tempo hari. Kita bertemu, setelah itu barulah kau boleh mengatakannya langsung kepadaku. Maaf, bukan aku terlalu jual mahal atau termakan gengsi remaja kekinian. Tapi aku hanya ingin meyakinkan bahwa sosokmu benar adanya, bukan fana. Aku tidak mau pada akhirnya aku hanya menjalin cinta dengan operator telepon, atau aplikasi chating paling update. 

Aku sudah mengenalmu cukup lama, tapi disisi lain, kamu itu abu-abu! Tapi, bukan abu-abu seperti gajah. Maksudku kamu itu samar-samar, sama sekali tidak bisa ku sentuh, seperti kentut saja. Kalau boleh aku jujur, sosokmu sudah berhasil memberi warna dikanvas hari-hariku. Begitupun selanjutnya, aku harap kamu tidak membangkitkan trauma masa laluku, disanjung untuk kemudian disakiti oleh mereka. Semoga kamu sosok yang baru, pembawa kebahagiaan, gelak tawa, dan bukan omong kosong. Semoga pertemuan nyata bersamamu sudah Tuhan rencanakan.

Sekarang aku mulai mencintaimu, fyi. 
Dan aku mau, kamu tidak meninggalkanku ketika aku sudah sangat jatuh bangun cinta padamu. 

Aku percaya, 
ada cinta diantara kita

Komentar

  1. Ah, ada yang lagi jatuh cintaaaa ada yang lagi jatuh cinta hahaha. Lalu hubungannya si Tuan tadi dengan kentut apa? Rasanya selama membaca tulisan ini, aku tidak menemukan apa-apa yang merujuk pada kentut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tidak lagi jatuh cinta, bweeek :p Aku lagi bangun cinta kooook.
      yang bersangkutan itu seperti kentut, ada tapi tak terlihat, tak bisa disentuh, oke kak paragraph terakhir deh *bela diri*

      Hapus
    2. Hahaha oke oke apapun deeeeeeh :p

      Hapus
  2. ciyeee bangun cinta hahha
    lebih baik bangun cinta dari pada jatuh cinta itukan lirik lagu -____- wkwkkw ihirrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkw kalau udah taken kasih tau ye :') buahaha
      pengen curhat sama kamu nih nggit hehe

      Hapus
  3. katanya si Tuan surat ini, suratnya udah dibales..

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Hai! Kamu baru saja mendapatkan liebster award dari aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya HayyuNabilahCantikSepanjangMasaSyubidambidam sebentar yaaaa cintaaah, ntar aku bales setelah semuanya kumpul :p

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan