Postingan

Cinta 18 Hari

Gambar
Untukmu, pacar dunia maya. Salam.... Sudah lama kita tidak bertegur sapa, ya? Maaf, bukannya aku melupakanmu, hanya saja waktu yang meminta padaku agar tidak selalu mengingat kamu. Melihat kejadian beberapa minggu yang lalu.  Aku lupa bagaimana-kapan pertama kali kita berkenalan, sehingga pada akhirnya bisa menjadi lebih dekat. Lebih dari sekedar teman dekat. Usia memang bukan masalah, begitupun jarak, katamu. Ah, lagi-lagi aku terjebak dalam hubungan beda provinsi, atau lebih dikenal dengan sebutan; Long Distance Reladiselinkuhinpacar. Aku memberi kamu kebebasan dengan harapan kamu bisa lebih menghargaiku. Tapi, kamu sudah menyalah artikan itu. Seenaknya kamu mendua, meniga, bahkan mengempatkan perasaan ini. Yang aku mau nantinya bukanlah pembalasan atau penyesalan, tapi hanya kesadaranmu bahwa ini perasaan wanita bukan histeria yang akan bisa dilambungkan kemudian dijatuhkan.  Meninggalkanmu, bukan berarti aku menghapus kenangan. Karena kenanga...

Kamu, Semoga Penyakit itu Pergi!

Senyum cantikmu, hilang menjadi pedih. Langkah anggunmu, kini telah layu. Bibir merah delimamu, kini sudah seperti buat apel kering. Sinar matamu telah padam. Tidak ada lagi semangatmu. Tidak ada lagi tawamu. Tidak ada lagi nyanyian merdu yang sering kamu perdengarkan. Tidak ada lagi jelly sedap buatanmu. Kini.. yang terdengar hanyalah... Jeritanmu ...!!! Jeritan ketika jarum suntik itu menyentuh tubuhmu Tangisanmu ...!!!  Tangisan ketika badanmu tersentuh benda. Rintihanmu ...!!! Rintihan, rintihan setiap waktu. Sakiiiiit... sakit...! katamu. Masih terdengar jelas ditelingaku rintihan halusmu. Disini, kami juga merasakan sakit. Tapi bukan sakit yang sama seperti yang kamu rasakan, kami merasakan sakit melihat kamu sakit. Semoga penyakit itu bisa pergi. Semoga bisa terlihat lagi senyum cantikmu. Semoga bisa kamu hadir (lagi) di ulang tahunku tahun depan. Semoga bisa kita berlebaran bersama. Semoga bisa .. semoga bisa .. Cep...

Pesona Alam Green Canyon; Mematikan Hasrat

Gambar
#1Hari1PostingBlog dengan kawancut sekalian. Ini tentang perjalanan saya beberapa waktu lalu di salah satu sudut negeri yang menyimpan sejuta pesan yang mengingatkan kita bahwasannya Indonesia ini teramat elok dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. Sebelum jalan-jalan keluar negeri, mending kalian mampir dimari deh. Di JAMIN NGGAK BAKAL NYESAL! Green Canyon dipopulerkan oleh seorang Perancis pada tahun 1993. Nama aslinya Cukang Taneuh (kata om saya, mungkin dia juga liat di gugel) Sebab, syukur alhamdulillah saya diberi kesempatan menginjakan kaki ditanah Jawa Barat untuk traveling dipenghujung tahun 2012. Banyak sekali tempat-tempat menarik disana, terutama di kabupaten Pangandaran. Nah untuk kali ini saya berkesempatan mengelilingi kabupaten yang baru saja resmi itu selama seminggu. Dimulai dari daerah pesirir, Pantai Timur, Pantai Batu Karas.... Batu Hiu, dan Green Canyon. Kalau kata teman saya sih, Green itu artinya hijau. Canyon itu artinya lembah. Jadi ya, lembah...

Yok, Belajar Mengelola Keuangan!

Gambar
Ngomong-ngomong soal prestasi, apa yang kalian paham soal prestasi? Rangking di kelas? IPK tinggi? Menang olimpiade, atau bisa nerbitin buku? Iya. Bagi segelintir orang hal tersebut memang sebuah prestasi yang bisa dibanggakan berupa bentuk jadi dan nyata. Tapi ada prestasi yang tidak dalam bentuk jadi, maksudnya kita bisa mengelola sesuatu untuk membatasi diri kita. Yup, kita ambil contoh soal keuangan. Yang ringan aja, uang uang uang. Ada dua hal tentang uang yang kita tau, Pertama, uang bukanlah segalanya. Kedua, segalanya butuh uang. Nahloh, jadi kita tinggal milih, mau menjadi tuan atau budak uang? Terserah kalian aja sih.  Oke, sekarang saya mau ngajak kalian ngomong serius!! Kepada para pembaca yang sedang melakukan perubahan disetiap detik kehidupan menuju yang lebih baik, selamat membaca :) Uang Bukan untuk Dihabiskan, Melainkan Disisihkan! Hai kalian yang masih dapat uag jajan dari orang tua! Yuk, sisihkan uang jajan itu, jika suatu saat kita pengen bel...

Surat untuk Ayah-Bunda; Suara Hati Kami

Assalamu'alaikum, Ayah-Bunda yang saya cinta!! Sudah lama kami merangkai kata untuk kalian, yang kini telah berubah menjadi paragraf padu. Berisikan tentang jeritan hati kami; keluh kesah, kebahagiaan, serta berbagai macam potret kehidupan yang selama ini kami jalani, yang sebenarnya ingin sekali kami ceritakan padamu. Tapi apa daya, tidak sedikitpun waktu kalian untuk kami. Ayah-Bunda dengarkan ini! Ketika rumah megah, jabatan, dan harta menjadi panutan. Yakinlah tidak sedikitpun rasa puas menyentuh hati kalian. Panasnya terik matahari sekalipun sudah lagi tidak bisa kalian rasakan demi gengsi, demi menjaga image dihadapan relasi kalian. Siang dan malam kalian bekerja mengais pundi-pundi rezeki, sementara disini, dirumah, kami menunggu kedatangan kalian. Datang tengah malam disaat kami telah tertidur lelap, mengusap lembut pipi dengan jemari penuh kehangatan, mencium kening kami, mengucapkan selamat malam. Sungguh kami ingin melampiaskan kerinduan masa kecil kami pada kal...

Ketika Ayahmu Menyapaku

Gambar
Duduk berlama-lama menghadap monitor mungkin salah satu hobi gue. Ada banyak yang bisa gue lakukan disana, apalagi ketika PC tersambung dengan internet, aah bahagianya!! Terlebih setelah jejaring sosial seperti facebook, twitter, skype, dan sebagainya kian marak, hueeee gue bisa dengan leluasa mencari teman sebanyak-banyaknya disana. Cari pacar sekalian, sukur-sukur dapat patjar yang begini modelnya :) Anyway, pada sadar nggak sih judul tulisan ini 'Ketika Ayahmu Menyapaku'? Ceileeeeh, seneng gue bro. Saking senengnya sampe lupa kalau pas malam itu lagi gedek dengan html. Siapa sih yang nyapa elo, Nggits? Sampe segitunya, biasanya juga kalau ada yang ngajak chatingan di pesbuk langsung di endchat. Jadi waktu itu tuh udah larut malam banget, sekitar jam 12an gitu deh. Sablengnya gue tab pesbuk belom di close-in, terus kan nama gue ada tuh di daftar temen chat. Nah, kebetulan poto profil gue kan cakep yak, mungkin itu juga yang mendorong tuh om-om buat ngechat gue, h...

Surat dari Bunda

Gambar
Untuk Anakku Tercinta, Nak, kami sudah dimakan usia. Umur kami sudah tidak lama lagi, kami mohon pada kalian agar bisa memahami dan memiliki kesadaran lebih dalam merawat kami yang kekanak-kanankan ini. Jika suatu ketika kami memecahkan piring, menumpahkan makanan yang sudah susah payah kalian buatkan, membangunkan kalian dimalam hari saat tertidur pulas, atau bahkan merusak barang milik kalian, kami berharap kalian tidak marah pada kami. Orang tua itu perasaanya sensitif, nak . Sekali saja kalian memarahi kami atau hanya meninggikan suara itu sama saja kalian telah menyakiti perasaan kami. Membunuh kami secara perlahan. Jangan bentak kami, Nak! Nak, ketika pendengeran kami semakin lemah, jangan kalian panggil kami, 'TULI!' , kami mohon ulangi saja apa yang kalian katakan itu dengan perkataan yang lebih lembut agar kami bisa lebih menangkap apa yang kalian ucapkan. Atau mungkin kalian bisa menggunakan bolpoin dan selembar kertas untuk berbicara pada kami. Maafkan ...