Kamu, akankah untukku? (Part 2)
Juli, 1957.
Kapalku akan berlayar malam ini menuju pelabuhan Pontianak. Aku yakin dirimu tidak tau tempat itu, begitu pula aku. Tapi tenang saja, tidak perlu cemas. Aku merantau disini tidak sendiri, aku tinggal bersama ayah angkatku.
Aku diterima menjadi seorang tentara, aku bangga, aku bahagia. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini denganmu. Tapi apa daya, aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu. Aku ditugaskan dikota kecil diujung Kalimantan Barat, Singkwang namanya. Orang menyebutnya sebagai kota amoy. Ya, aku setuju dengan julukan itu karena disini banyak sekali orang-orang Cina, bahkan aku yakin orang Cina berasal dari kota ini.
***
Waktu sudah berjalan hampir 3 tahun lamanya. Bukannya aku lupa denganmu. Tapi aku harus menjalankan tugas ini. Tugas sebagai seorang tentara.
Disuatu malam terpikir dibenakku, kenapa ayah menyuruh menjadi seorang tentara dan tinggal bersama ayah angkatku di Kalimantan. Aku tahu alasannya. Ini semua karena ibu ingin menjauhkan kita. Ibu tidak ingin ada hubungan dengan keyakinan berbeda. Kedua orang tuaku sangat tidak mau aku menikahimu. Dan dari surat ibu pula aku tahu, kau sudah dijodohkan oleh ayahmu dengan seorang saudagar kaya dari Jakarta. Aku mencoba mengikhlaskanmu, walau itu sulit. Hatiku masih sakit bila teringat perjodohanmu.
Hingga hari ini aku dikenalkan pada seorang wanita asli tanah Kalimantan. Ia sama cantiknya denganmu. Kata ayah angkatku ia cerdas. Namanya Rumina. Ia bekerja di kantor Lurah. Perasaan ku bergetar bila kami bertemu. Senyumnya, tipis. Tapi sangat membekas. Ia pandai membuat sajak. Aku adalah pendengar setia saja-sajaknya. Dan aku pun mulai jatuh cinta padanya, jatuh cinta yang kedua kali. Meski bekas cinta pertamaku belum pudar. Aku masih sering teringat tentang dirimu.
Kami sepakat akan melangsungkan pernikahan. Sederhana saja. Hanya orang-orang terdekat dan beberapa warga yang kami undang. Hari itu, kami terlihat bahagia.
Empat bulan setelah pernikahanku, aku mendapat kabar bahwa kau telah melahirkan anak pertamamu dari saudagara kaya itu. Ya aku turut bahagia, sebab istriku juga sedang mengandung anak pertama kami.
Ya , berumah tangga memang berat. Perlu kesungguhan dan cinta yang luar biasa. Terlebih saat istriku mengetahui bahwa aku masih sering teringat tentang dirimu. Kadang aku mendapatinya menangis tengah malam. Aku mulai kasihan padanya. Kenapa cinta yang aku miliki tidak seutuhnya milik dia? Kenapa aku harus membagi cinta dengan seorang wanita yang telah diperistri oleh saudagar kaya raya? Aku mulai memfokuskan cinta ini hanya untuk sebuah keluarga kecil yang baru saja ku miliki.
Kami mulai pindah ke kota setelah anak ketiga lahir. Kami menjalani kehidupan seperti layaknya orang kota. Istriku baru saja dipindah tugaskan ke kantor Imigrasi dan aku naik pangkat. Alhamdulillah, kebahagiaan sepertinya benar-benar milik kami. Kesibukan kami berdua tidak dapat disanggah, bahkan untuk mengurus anakpun kami tak sangggup. Terpaksa aku dan istri mengambil seorang supir, pembantu, dan seorang lagi baby sitter yang bisa menjaga anak kami.
Hingga suatu saat kami mendapat musibah, istriku jatuh dari motornya. Ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Dan saraf dimulutnya tidak berfungsi lagi. Ia tidak bisa bicara lagi, bahkan untuk makan saja harus menggunakan selang yang langsung dimasukan kehidung. Hati ku sakit juga melihat seorang wanita yang sudah memberikan ku tiga anak yang lucu terbaring lemas seperti seorang mayat, tanpa gerak. Yang memberi tanda bahwa ia masih hidup hanyalah bibir tipisnya yang masih membentuk senyum tipis seperti saat kami bertemu waktu muda dulu.
*bersambung*
Komentar
Posting Komentar