Kamu, akankah untukku?

Ini tentang sebuah pengabdian cintaku padanya. Pada sosok wanita yang berhasil memikat hatiku berpuluh tahun silam.

Saat itu aku seorang remaja biasa, menghabiskan hari-hariku bersama para sahabat. Menjalani masa-masa SMA ku dengan penat. Hingga akhirnya Tuhan menciptakan mahluknya yang lain untukku, untuk hamba yang belum mengenal cinta.

Februari 1956.
Sosok mu terlintas dipandanganku. Bukan suka yang ku rasa, tapi kekaguman. Detik itu juga. Aku mencoba mencari tahu tentangmu, segala tentangmu. Aku mulai menulis tentangmu, tentang keindahan dan kesempurnaan yang telah Tuhan hadirkan di bumi. Aku bersyukur bisa melihatmu, terlebih memilikimu. Semoga saja.

Seperti biasa sepulang sekolah aku selalu bercerita pada ibu tentang bagaimana sekolah ku hari ini. Berapa nilai yang ku dapat di pelajaran matematika? Apa ada guru yang tidak masuk? Apa saja kekacauan yang terjadi dikelas hari ini? Dan ceritaku hari ini penuh dengan nama mu. Sepertinya aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku bercerita tentangmu pada ibu, dan lagi lagi tentangmu. Aku gila karenamu. Selamat kau berhasil membuatku gila.

Seiring berjalannya waktu, masa penat SMA yang sering ku alami dulu kini berubah. Berubah menjadi sebuah kebahagiaan, karena baru-baru ini aku sering melihatmu melirik tajam kearahku. Aku sering terdiam dalam bahagia. Jika mata kita bertemu dalam sebuah tatapan, aku merasa bahwa aku-lah manusia paling beruntung. Kenapa? Karena aku dapat melihat dengan jelas senyummu, keceriaanmu, meski dari jarak yang tak begitu dekat.

Surat cinta yang sering aku kirim, mulai kau balas. Aku senang setengah mati. Aku langsung mengambil kesimpulan bahwa kau juga suka pada ku. Ibu bilang aku terlalu dini untuk mengambil kesimpulan seperti itu, tapi aku yakin, dari kata-katamu bisa ku simpulkan seperti itu. Semoga kita berjodoh.

Sehari yang lalu barulah aku tahu, bahwa kita beda keyakinan. Tuhan kita tak sama, tapi apakah itu akan menjadi penghalang masa depan kita? Tidak. Maksudku tidak tahu, akan ku bicarakan pada ibu masalah ini esok. Semoga ibu tetap merestui hubungan kita yang entah apa statusnya saat ini. Semoga perbedaan ini tidak menjadi kendala yang begitu berarti. 

Suara ibu meninggi. Ibu marah besar saat aku bilang bahwa aku akan tetap menikahimu meskipun kita berbeda. Ibu tidak menyalahkan kodrat Tuhan yang telah mencipkatan sebuah rasa untuk hambanya. Ibu juga tidak menyuruhku untuk menjauhimu. Itu berarti aku masih bisa mengirim surat cinta yang telah kupersiapkan sejak lama dengan barisan kata-kata yang indah dan memanjakan.

Sudah ku persiapkan segalanya untuk menyambut datangnya EBTANAS. Aku siap lahir batin untuk segera melepas masa SMA ini, malah aku bahagia. Karena itu pertanda aku akan segera meminangmu. Sabar, jangan takut, aku meminangmu setelah aku dapat pekerjaan. Aku akan bekerja terlebih dahulu, mencari uang yang banyak agar bisa membahagiakanmu. 

Ssssayang?
Bolehkah aku memanggil mu dengan sebutan itu? Aku melihatmu tersenyum sesaat setelah pertanyaan itu keluar dari mulutku. Matamu, membuatku tak sanggup menahan diri. Selalu ingin terbang melayang jauh ke angkasa raya. 

Untukmu yang ku panggil sayang,
Setelah lulus dari SMA ini aku akan pergi untuk melanjutkan cita-cita ayah. Aku ingin berbakti kepada orang tua, menuruti keinginan mereka. Aku akan pergi ke Kalimantan, disana aku akan mendaftarkan diri untuk menjadi seorang tentara. Bekerja, mencari uang. Setelah itu aku akan kembali dan meminangmu. Percayalah, tunggu aku. Aku percaya kita berjodoh, Tuhan menciptakan kau untukku dan aku untukmu, sayang. Aku akan selalu sayang padamu, dik. Semoga kau juga begitu.
- Mas mu-

Surat ini hanya aku ttitipkan melalui tukang sayur yang kebetulan lewat depan rumahku. Aku menitipkan pesan padanya agar segera disampaikan padamu. Maafkan aku yang tak berani berbicara langsung padamu, aku tak sanggup bila harus melihat air matamu mengalir dipipi halusmu itu.

*bersambung*



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan