Surat Cinta Untuk Sahabat
Kita, July 2011
Awal aku melangkahkan kaki ke gedung itu adalah awal mengenalmu. Mulanya sungguh aku tak tertarik pada raga seorang lelaki yang memiliki nama hanya dengan tiga huruf itu. Dia sungguh biasa. Masa-masa perkenalan kita lewati bersama, keseharian kita sama, dan kita selalu bersama. Wajah oriental mu semakin lekat dalam ingatan ku. Petikan gitar mu semakin akrab di telingaku. Nanyian kecilmu semakin sering kau perdengarkan di hadapanku. Aroma tubuhmu sudah sangat melekat di indra penciumku.
Ketika seorang guru mengatakan, kamu adalah sosok yang memiliki karakter tampan dan boleh dipertemankan. Aku semakin yakin, kamu adalah yang ku cari. Seiring berjalannya waktu kita mulai sering bertukar cerita. Kamu sering mendengarkan ceritaku dengan sangat antusias tentang seorang lelaki yang ku kagumi. Begitupun aku, aku mendengarkan ceritamu tentang tipe-tipe wanita yang kau suka. Huh, dasar lelaki. Ketika ada mata-mata yang mengikuti kebersamaan kita, disitu juga muncul beberapa peryataan aneh tentang kita.
Aku masih ingat ketika kamu mengajari aku trogonometri, tenang. Setelah aku mengerti kita lalu berlomba menyelesaikan soal-soal yang disediakan. Jika kamu menang, biasanya kamu akan menjulurkan lidah dan merasa hebat. Tapi jika aku yang menang, kamu selalu bilang "Itu biasa...". Kemudian kita tertawa.
Aku masih ingat ketika kamu menemani aku makan siang. Hari itu adalah hari terakhir sebelum UAS, kita mengikuti tambahan belajar dari pagi dan aku mengeluh lapar. Dengan senang hati kamu menawarkan diri menjadi teman makan siangku. Aku memesan nasi goreng. Ya, aku tahu kamu suka ini. Tapi sungguh aku tidak tahu kalau kamu tidak suka nasi goreng seafood. Padahal kalau kamu rasa, jauh lebih enak daripada nasi goreng mata sapi buatanmu itu.
Aku masih ingat ketika kamu menempuh jarak yang jauh dari rumahmu menuju rumahku hanya untuk minta ditemani ke tempat fotokopi. Aku tertawa malam itu, rupanya kau punya alasan lain. Ya, hari itu malam minggu. Kamu sengaja kan datang mengunjungiku? Lalu kita pergi kerumah temanmu hanya untuk mengatarkan barang titipan.
Terlalu sering melewati hari-hari bersamamu membuatku merasa nyaman dan aman. Ketika aku menulis ini genap sudah tiga tahun kita saling mengenal. Tapi tidak banyak yang aku tahu tentang kamu. Yang aku tahu, kamu masih suka sama mantanmu dulu. Dan kamu tentu saja masih mendoakan aku agar bisa berkeliling dunia, ya kan? Aku masih selalu meredam suara hati ketika kita bersama. Setiap orang pasti akan merasakan jatuh cinta. Begitu juga kita, kita akan merasakan itu. Kita memang dekat, tapi tidak harus selalu dijadikan pacar. Karena kedekatan bisa saja berdasar karena rasa nyaman, bukan sayang.
Kamu adalah sesungguhnya yang aku cari. Yang mau beradu argumen, dan tidak selalu mengatakan iya pada setiap kata-kataku. Aku selalu memohon pada Tuhan agar Ia menjaga mu, memberikan yang terbaik untukmu dan agar Tuhan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Beginilah caraku mencintaimu ; dengan mendoakanmu dan selalu mendengar ceritamu.
Selamat berjuang meraih mimpi, ITB menunggu mu.
Sepulangnya aku dari keliling dunia nanti, aku pasti akan mengunjungimu.
Sepulangnya aku dari keliling dunia nanti, aku pasti akan mengunjungimu.
Komentar
Posting Komentar