Pisa, Kota Tua Dengan Segala Keindahannya

Pisa. Sebuah kota kecil di Italia dengan luas 185 km² menjadi persinggahan saya berikutnya.

Hari itu perjalanan saya mulai dari kota Roma dengan menggunakan megabus selama 4 jam. Sengaja saya mencari perjalanan malam hari supaya bisa menghemat biaya penginapan, hehe. Tujuan saya ke Pisa memang hanya untuk melihat secara langsung menara miring pisa yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO, mehr nicht!

Pagi-pagi sekali, saat matahari belum menampakkan dirinya, bus berhenti disebuah halte kecil. Dikiri-kanan jalan berbaris rapi bangunan-bangunan tua dengan ciri khas jendela jelousie dan warna cat yang memudar. Saya seperti di belahan bumi lainnya. Tidak ada orang, hanya hembusan angin yang membuat bulu kuduk berdiri. Sepanjang jalan saya berdoa, supaya dilindungi dari serang zombie atau apapun, sebab saya tidak tahu dimana saya berada.

Saya senang dengan hening pagi itu. Tidak ada suara yang memekakkan telinga. Kira-kira 10 menit kemudian, sebuah bangunan miring setinggi 55 meter itu sudah berada di ujung penglihatan saya. Menara Pisa! 

Menara Pisa berdiri kokoh disebuah area yang tidak terlalu luas, Piazza dei Miracoli, namanya. Berdampingan pula dengan Cathedral, Baptistery, Camposanto Monumentale, Ospedale Nuovo di Santo Spirito, dan Palazzo dell'Opera.

Piazza dei Miracoli
Menara ini di desain seperti bangunan pada umumnya, vertikal. Tapi karena dia berdiri diatas tanah yang labil, akhirnya menara ini melenceng 5 meter dari garis lurus. Kita bisa masuk dan naik ke dalam menara tersebut dengan membeli tiket 18€. Untuk mencapai puncaknya tentu saja kita harus menaklukan sekitar 290an anak tangga, kuat? Menara Pisa tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan bangunan Baptistery.

Layaknya seorang turis, saya ingin mengabadikan moment ini, hampir sejam saya mengelilingi bangunan tapi tidak menemukan angel terbaik. So, asal kalian tau aja, para turis itu sebenarnya sudah menginjak hamparan rumput yang indah, padahal sudah jelas terpampang nyata himbauan untuk tidak menginjak rumput, dan memanjat pagar, tapi masih banyak yang bandel. Jadi tolonglah, tetap taati peraturan yang ada demi kenyamanan bersama, jangan menuruti ego sendiri hanya demi eksis!
Sedangkan untuk menikmati karya indah dari seorang Buscheto, seorang arsitek Italia, kita bisa saja langsung masuk ke Cathedral, tanpa perlu membeli tiket. Asique! Jangan lupa pula untuk melihat langsung baptistery terbesar di Italia.

sebuah gang menuju Pisa
Setiap manusia berhak menikmati akhir pekannya dengan cara masing-masing. Ketika sebagaian orang memilih untuk bermalas-malasan setelah lima hari kerja. Saya memutuskan untuk menikmati setiap sudut kota ditemani matahari yang cukup terik. 

Hari semakin siang, perut sudah mulai keroncongan. Akhirnya saya melabuhkan diri pada seorang pria sebuah restaurant yang tidak jauh dari Piazza dei Miracoli. Saya hanya membayar 8€ untuk seporsi Pizza, segelas Lemon Tea, dan service tax. Oke, service tax-nya lebih mahal daripada harga segelas lemon tea. Makan Pizza di Pisa, yummi!
Pizza di Pisa!
Lelah berkeliling kota Pisa seharian, ini saatnya untuk bersantai ria dipinggir sungai Arno. Sebuah sungai yang berada di Toscana, melalui beberapa kota di Italia, dan berujung di Laut Liguria. Sungai ini bisa menjadi bencana, ketika salju mencair ditambah hujan lebat yang terus menerus, banjir siap melanda beberapa kawasan rendah di kota Pisa. Sayangnya, keindahan sungai ini tertutupi dengan sampah, masih banyak warga dan turis yang seenak jidat melemparkan sampah plastik ke sungai ini. 

Sungai Arno

Travel brings Power and Love back to your life - Rumi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan