Diam-Diam Suka
Cuaca siang ini sudah diluar akal manusia, panas sekali. Mungkin kalau akau meletakkan telur dijalan aspal, telur itu akan masak. Bisa jadi. Aku benci kenapa ibu bertekad menyekolahkanku di tanah Khatulistiwa, sudah ku bilang disini panas sekali, aku benci keputusan ibu. Sudah tahu zaman semakin tua, kerusakan ozon dimana-mana, es dikutub mulai mencair disebabkan panas bumi, sekarang aku seperti menyerahkan diri kelubang api. “Heh, gadis aneh ngapain kau duduk disitu?” teriak seorang laki-laki ke arahku. “Bukan urusanmu!” jawabku seperlunya. “Sudahlah, Ris. Jangan isengin orang terus.” “Udah tau panas, bukannya berteduh malah manggang diri dibawah matahari. Dia pikir ini Eropa kali ya, bisa berjemur…” Keduanya lalu tertawa lepas. Aku kesal dengan dua orang murid laki-laki yang baru saja menertawakanku. Siapa sih mereka? Tapi memang benar sih, ngapain juga aku duduk dikursi taman yang tidak ada pohon pelindungnya. Aku bergegas menuju kelas, sebentar lagi bel masuk aka...