Bringasnya Kehidupan Luar Negeri

Sudah lama tak jumpa, membuat rindu kiat menjerat. Dalam. Dan sakit. Waktu dan jarak. Masih menjadi kendala. Laksana langit dan bumi yang hanya bisa saling tatap tanpa menyentuh. Tak pernah bersatu dalam waktu, dipisahkan dalam jarak ribuan bahkan milyaran mil #tsaaah.

Sudah sembilan tahun kami terpisah dalam jarak yang tak wajar. Konsekuensinya adalah komunikasi yang putus nyambung seperti lagunya BBB. Pernah beberapa kali kami berbincang hangat melalui telepon, tapi hasrat ingin jumpat tetap tidak bisa di tahan, hingga akhirnya kami benar-benar hilang komunikasi. Saya tidak tahu gimana caranya nelpon keluar negeri (iya, memang norak!), mau sms tapi nanti malah nyangkut di providernya. Lewat akun sosial internet, masih belum nemu akun mereka walaupun udah dicari ribuan kali. Saya rindu sepupu saya yang tjakep tjakep.

Setelah ribuan hari dilanda kemiskinan silaturahmi, komunikasi tak juga terjalin. Akhirnya suatu hari ada sebuah notif di facebook, minta accept pertemanan gitu. Dalam sejarah kehidupan ber-facebook saya tidak pernah mau meng-accept orang orang bernama aneh (menggunakan bukan nama sebenarnya), tidak menggunakan foto asli, tidak mencantumkan identitas. Karena menurut saya mereka alay, dan saya tidak menerima orang alay apalagi menjadi pacar. Belakangan saya di kasih tau dengan sanak keluarga yang berada di Pangandaran bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa #abaikan, bahwa facebook tersebut adalah milik sepupu saya yang tersesat di Lyon, France. Lagi lagi masalah waktu, kita tidak pernah sekalipun terjebak dalam waktu yang sama untuk sekedar ngobrol ngobrol manja berbagi ceria seperti ketika masih kecil dulu. Akhirnya dengan segenap bujuk rayu, saya mendapatkan fasilitas internet kencang sekencang sabuk pengaman yang terpasang dilingkar pinggang agar kita tidak terjatuh di 'lubang' yang sama -______- Berselang beberapa bulan kemudian kita menjadi sering berkirim e-mail, berasa jadul banget. Masih surat suratan ditengah kebiadaban zaman, iye sih ini surat elektronik, tapi kan tetap aja surat namanya. Barulah diawal tahun 2013 kemaren saya buat akun skype (ketinggalan zaman banget sich?!) dan tiba tiba sekali sepupu saya itu langsung ng-add dan resmilah kita rajin ber-skype-ria.. Dari lusinan cucu mbah, hanya saya yang sering berskype HAHAHA. Yang lain, duh entahlah.

Ada yang membuat saya terkesima, sekarang dia sudah tumbuh menjadi remaja tampan, saya naksir! Bicaranya sudah logat bule dan gagap dalam bahasa indonesia, what the ... (Lo lahir dimana broh?!) Saya kira dia akan tetap menjadi seorang Farid kecil yang saya temani bermain. Ah rupanya saya salah karena setiap orang pasti akan tumbuh kembang. Yang terpenting dari segalanya adalah ketika dia bilang saya sekarang lebih cantik karena sudah berjilbab. FYI, keturunan arab maklum yang taat beragama saya telat dalam berjilbab :(( (Arab dari maneee?)

Hingga akhirnya dia banyak cerita tentang negaranya saat ini. 
"Kami disini tidak boleh ikut campur urusan orang kalau tidak diminta, bisa ditangkap polisi"
"Hah, masa sih? Di Indonesia banyak orang kepo fine fine aja tuh."
"Disini kami tidak pernah mau tau urusan orang lain, terlalu buang-buang waktu dan tidak bermanfaat."
"Cocok nih aku tinggal diluar negeri! Trus apa lagi?"
"Disini kami dituntut kerja dan kerja, tidak ada sedikit pun waktu sia sia. Hidup aku terasa lebih bermanfaat setelah pindah kesini. Disini juga tidak ada orang bergosip, ya mungkin kalau artis sih iya."
"Keren! Sisi negatifnya?"
"Ya banyak sekali orang mati dalam flat yang tidak ketahuan, karena kami memang tidak pernah mau tau urusan orang."
"Loh, gimana ceritanya?"
"Ada yang setelah satu tahun mati baru di temukan, disini banyak anak hilang, lalu dibunuh.."
"Masih ada psikopat?"
"Hahaha, masih mungkin. Tapi disini aman, cctv dijalan tidak pernah dicuri, bahkan aku sering pulang larut malam dari perpustakaan, it's ok."
"Gila, anak kecil nggak boleh pulang malam. Oh iya, sudah pernah ke eiffel?"
"Sudah biasa. Loh mau ngapai ke eiffel cuma menara tinggi."
"Ya foto foto, ngeliat keajaiban dunia gitu. Mumpung masih disana loh."
"Kata abi, yang foto foto di sana kampungan"
"Berarti sekarang keajaiban dunia ada delapan, kamu, orang yang gak mau ke eiffel."
"Hahaha, kejaiban dunia yang luar biasa itu ada di Indonesia, luar biasa candi candinya, alamnya, dan masyarakatnya. Kadang kami rindu dengan suasana disana.."
"Apa yang kamu rindukan?"
"Saling peduli, dan suasana dalam angkot. Disini kalau di dalama bus umum, kami hanya diam seperti robot, tidak saling berteguran dengan orang sebelah. Rindu dengan himpit himpitan di bus indonesia." -_____- dasar turunan bule aneh!
"Saya rindu masakan khas di Indonesia, ah sudah lama tidak makan nasi."
"Lalu makan apa?"
"Gandum, roti, coklat, keju, daging.... beras mahal."
"Ajegile makanan elit semua. Yang begituan malah mahal disini..."
"Apalagi lebaran, ampun Tuhan. Batin aku kurang greget."
"Pasti disana gak se-seru di sini ya?"
"Iya, disini juga nggak ada orang se-cantik mba..." #yanginibohong #end

Begitulah obrolan petikan singkat ketika kami pertama kali bertatap. Sebenarnya ada kejadian yang sedikit memalukan, jadi sebelum obrolan diatas kami yang sama sama memendam rasa rindu bertingkah konyol, seolah olah pengen masuk kelayar laptop masing masing, kejingkrakan, lalu kita teriak teriak sampe tetangga saya datang kerumah sore itu :D Disela sela obrolan manja nan kepo itu tercurah sedikit bumbu humor, tak pernah sekalipun bibir kami berhenti tersenyum.

Yang bisa saya petik dari omong-omongan diatas adalah bagaimana kita jangan terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain. Bahkan iitu sudah sangat jelas, tidak ada manfaatnya, dia benar, budaya luar negeri yang seperti ini bisa kita contoh. Hitung-hitung meminimalisasi dosa, hehehe. Sebab katanya neraka sudah penuh, takut overload, dan surga masih cari orang tuh. 
Kamanan, ketentraman, dan kenyamanan hidup disana juga perlu dicontoh. Yang terpentinga dalah kesadaran diri dulu sih, jangan maunya aparat terus yang menjaga itu semua, aparat juga manusia yang perlu dikasihi, disayangi, serta dicintai, kali-kali diantara mereka juga ada fakir asmara, mana tau kan?
Cintai negara kita, jangan buru-buru pergi. Sudah dinegara orang nanti kepengen pulang lohhh... Selagi di Indonesia makanlah beras yang banyak, tuh katanya di luar negeri mahal lohhh... 
Biar kata di luar negeri aman, tapi tetap aja kan masih ada psikopat gitu, hiii ngeri.. Ini nyata, katanya waktu itu tetangga depan flet apa flat (gimana sih nulisnya?) dia yang diculik, ahhh kalau di jadiin istri pangeran mah gapapa, kalau diperkosa lalu dibunuh gimana? Lalu nanti minya tebusan, lalu mama papa kamu bingung lalu kamu nangis dan makannya banyak, kan kasian yang nyulik kamu.
Nah dibawah ini yang perlu kita jaga. Seperti penuturan sepupu saya tadi, Indonesia lebih mantap!!


Tapi tetap aja pengen liat Eiffel secara langsung.. Pengen foto-foto gitu, pengen ng-alay (katanya gak suka alay?) pengen bernorak ria disana. Pengen manjat eiffel, pengen gelanjotan di puncaknya, pengen nari nari ala india di taman sekitarnya, pengen kodar disana, pengen ditembak disana #matidong #apasih #abaikan paragraph ini.

Jado sob, dimanapun kamu sat ini cobalah untuk bersyukur atas apa yang kamu miliki sekarang, jiwa raga cinta kasih sayang keadaan kenyamanan keadilan. Bersyukur yang tinggal di Indonesia, masih sering di-kepo-in, itu adalah salah satu wujud perhatian secara tidak langsung yang dikemas seapik mungkin sehingga terdengar gaul. Manfaatkanlah ini sebagai ajang pencarian pahala, hahaha. #gakmaurugi Bersyukurlah atas waktu kita yang masih terbuang sia-sia.

Udah ah postingannya, saya mau berbahagia dulu dengan sepupu 'pantai' saya ini. Bye bye, emmmuah :*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan