Hujan Pudarkan Bayangmu
Entah kenapa lagi-lagi aku memikirkanmu.
Entah kenapa pula lagi-lagi kau hadir disela-sela mimpi indah tadi malam.
Entah kenapa kamu masih terus mengirimkan pesan singkat untukku.
Ah, sudah terlalu banyak kata entah yang aku tuliskan. Sebab, aku masih harus menyatu dalam kepura-puraan yang nyata.
Entah kenapa pula lagi-lagi kau hadir disela-sela mimpi indah tadi malam.
Entah kenapa kamu masih terus mengirimkan pesan singkat untukku.
Ah, sudah terlalu banyak kata entah yang aku tuliskan. Sebab, aku masih harus menyatu dalam kepura-puraan yang nyata.
Mungkin sudah lama kita tidak jumpa, Ji. Sedikit kata rindu memang yang sering terbesit dalam pikiran. Bayang-bayangmu masih terus ada di pelupuk mata. Rangkaian kata indah yang maish terus kau lantunkan. Seolah tak pernah henti untuk selalu menciptakaan siksaan batin. Aku ingat terakhir kali kita ketemu, sebuah pulau nan mahsyur milik Indonesia, awal tahun lalu. Sepi pengunjung. Batuan granit tertata indah disana. Lambaian pohon ditepi laut, untuk kita. Entah apa yang membawa kita kesana.. Mengapa kita berjumpa disana.. Menjadikan bebatuan saksi bisu atas pertemuan singkat kita. Ingatkan, Ji?
Bicara kenangan, aku ingat saat pertama kita bertatap. Mungkin kita tidak saling kenal, maklum sudah lama tak bertemu. Deburan ombak yang semakin liar menghatam bibir pantai menciptakan suara manja alam yang kian akrab ditelinga. Mungkin lagi, langit menertawakan kita. Bumi yang kita pijak pun seolah turut menertawakan kita. Rindu mengelabuhi kita, membuat kita lupa diri, apalagi aku. Singkat cerita, hanya beberapa menit saja pertemuan kita. Maafkan aku yang buru-buru untuk kembali ke kota. Disini aku tahu, kau sudah memiliki seorang yang akan mengucapkan selamat pagi, dan selamat malam. Yang mengingatkanmu untuk makan, yang (mungkin) akan menyita waktumu. Entah siapa dia, aku tak mengenalnya. Belakang aku tahu, Ji, wanita yang kau kenali lewat dunia maya itu sudah menjadi pacarmu sejak sebulan lalu. Aku ingin melepaskan bayang-bayangmu, mengurangi siksaan batin. Tapi buktinya apa? Aku semakin terjerat dalam ruang kosong yang menyiksa, masih selalu dihantui bayanganmu.
Ketika hujan datang, aku bersyukur menumpahkan nikmat, hasrat. Aku merangkai frasa agar terdengar lebih indah, agar hujan bisa menikmatinya juga, agar hujan mau mengabulkan inginku; membuang jauh harapan denganmu. Aku semakin yakin, dunia tak pernah memberi restu untuk kita saat ini, tapi entahlah kedepannya.
Sudah tak berlaku lagi teman curhat, aku takut makin terjerat, dalam kebutaan kasih denganmu. Saat kau membaca ini, aku tak pernah berharap mendapatkan balasannya. Tetapi ketahuilah, aku masih menyimmpan rindu dahsyat.
Melihat lambaian tangan.
Salam dariku yang terpaku menikmati hujan.
Komentar
Posting Komentar