Ambarrukmo dan Kami

Sepulang dari Prambanan, Yogyakarta.

Kenapa postingan ini saya beri judul 'Ambarrukmo dan Kami?' Awalnya saya mau memberi judul 'Ambarrukmo dan Kita' tapi kedengarannya terlalu vulgar. Ini tentang sebuah catatan kecil saya bertemu dengan seorang yang lumayan memberi semangat dalam hidup.

Saya ingin menepati janji bertemu dengan sesorang yang sudah sekian tahun nggak ketemu Basith Kuncoro Adji. Ceritanya si dia ini teman SMP saya di Pilot Internasional Standar of Junior High School of 3, Pontianak (SMPN 3 Pontianak). Tapi kami beda kelas, ya walaupun begitu saling mengenal. Ingat pepatah yang mengatakan, Tak Kenal Maka Tak Sayang, Tak Sayang Maka Tak Cinta! 

Jam tangan menunjukan pukul 14:20 saatnya mencari tempat ketemuan yang udah di sepakati, Ambarrukmo Plaza. Saya nggak tahu persis letaknya dimana, bertanya pada yang mengantar ia juga nggak tahu. Mama sama papa udah langsung cus aja balik ke hotel. Jadilah saya memutar otak menggunakan GPS. Thanks GPS! Sesampai di Amplaz saya langsung mengirimkan sms untuknya. Wiiihii langsung di balas, mungkin dia lagi mantengin layar handphone-nya menunggu sms dari saya *pede dikit gapapa ya*

Kira-kira begini balasan dari dia :
Nanggung mau ashar dulu ya setelahnya baru pergi. Jadi nyampe jam 3 lewat deh, hehehehe :)
Nggak masalah, saya juga mau ke Gramedia dulu liat liat buku siapa tahu ada diskon. 
Ternyata nunggu jam 3 lewat itu nggak lama ya.
Ada pesan masuk. Dimana? Aku udah nyampe.
Lantai dua depan quick silver, balasku. 

Syubidam bidam, kenapa ini orang lama banget ya? Katanya udah sampai. Apa jangan-jangan dia nyasar? Tapi nggak mungkin deh, ini kan kota-nya. Sambil nungguin dia datang, saya twitteran. Nggak lama kemudian ada panggilan masuk, BKA.....
"Haloo...." tut... tutt. tuut dimatikan

Biasanya nih kalau seseorang menghubungi kita saat janjian berarti dia udah sampai di TKP. Saya celingukan, dibalik pohon kecil ada sosok yang tersenyum lebar memamerkan giginya. BASIIIIIIITTTHHH!!! Akhirnnya ketemu juga!

Eh kenapa lo cakep amat yak sekarang? Haduh tinggi banget lagi, putih.... Aduh tante punya anak cakep amat yak? Buat saya aja ya! Wah, pulang dari Jerman badan lo berisi ya? Sukses nih? Aku padamu~ *ini kira-kira omongan hati gue* Jujur, saya nggak bisa ngomong apa-apa pas ketemu dia. Mata saya nggak fokus, apalagi pikiran saya udah ngalor ngidul. 

Sesaat kita basa-basi dan akhirnya makan dulu deh, belom makan nih dari pagi. Dia memesankan makanan jenis western apa gitu yang ada salmon-nya. Enak. Dia juga bilang itu makanan sering dia makan. Yang bikin makanan saya tambah enak adalah gratis. Yaya, dia mentraktir saya pemirsa setelah sekian tahun. Ini makan bersama kami setelah dua tahun yang lalu.

Obrolan kami sore itu udah kesana kemari, seperti Ayu Ting-Ting yang lagi nyari alamat. Tapi topiknya masih seputar bagi-bagi pengalaman aja sih. Seru aja. Sampai lupa waktu. Yang masih saya ingat betul ketka dia minta ditemanin ke toilet. Dia bilang, "Mau ikut ke toilet? Ikut aja yuk, daripada kamu hilang disini." Ya udah saya manut aja. Begitu keluar dia bilang, "Hihihii biasanya kan cewek yang minta ditemanin ke toilet. Kenapa ini malah cowoknya yang minta ditemanin?" Santai saja, sama saya semuanya itu wajar.

Dari situ kami ngobrol-ngobrol lagi, sampai akhirnya dia bilang "Tadi kita ketemunya kayak di ftv ya?" Iya, soalnya kita sama-sama datang dengan penampilan baru. Aku yang baru. Kamu yang baru. "Aku cantik nggak?" *ini pertanyaan hanya melintas dipikiran*

Begitu banyak omongan kami sore itu, mulai dari menertawakan orang-orang pacaran, orang yang lewat didepan kami sambil bergandengan tangan, adik kecil gaul yang duduk di kursi sebelah, sampai ketemu orang yang mirip Duta Sheila on7. Kami berdua langsung terdiam, saling berpandangan, dan tertawa lebar. Pengen negur tapi takut salah orang :D

Jam lagi-lagi mengingatkan saya untuk beristirahat 19.50. Diluar hujan, dia juga nggak bawa helm dua. Ya sudah saya dipulangkan dengan taksi putih. Dia bilang, "Tenang aja harga taksi disini murah kok". Saya langsung terbayang ongkos taksi di Pontianak bisa melebihi 100 ribu., padahal bensin lagi nggak langka. Selama perjalanan balik ke hotel, saya di tanyain terus sama supir taksinya. 

Begini jelasnya, "Mbak, pacarnya kok nggak ikut pulang?" Dia pakai motor, Pak.
"Kok nda di antar pulang pake motor aja, Mba?" Kalau saya di antar dia, yang naik taksi bapak siapa?
"Ngga papa kok mbak. masih banyak yang lain."
"Pacarannya udah lama, mbak?" Idiiiih ini bapak kepo amat, KITA NGGAK PACARAN.
"Mbak, kenal dia udah lama?" Udah, dia teman SMP saya. 
"Wah bisa jodoh tuh, Mba.." Saya masih SMA, Pak.
"Udah kenalan sama keluarganya, mba?" Ya, kenal gitu aja.
"Mbak, jodoh itu bla bla blabla..........".  UDAH BAPAK NYUPIR YANG BENAR AJA PAK!

Seandainya kamu tahu, Sith. Aku habis diinterogasi sama si supir taksi pilihanmu itu -___-

Sesampai dihotel bener aja, ongkos taksinya nggak sampai 20 ribu loh :D Basith memang bos taksi!

Saya masuk kamar, baring-baring dan lanjut lagi ngobrol-ngobrol sama dia via What'sApp. Sampai akhirnya saya ngantuk dan mama belum pulang dari Malioboro. Ya sudah karna besok dia harus sekolah dan saya harus melanjutkan perjalanan. Obrolan hari itu dicukupkan sekian.

Dengan berakhirnya obrolan kami, berakhir pula aktivitas saya hari itu. Saya ngancuuuks.
Have a great night before wonderful flight, nah begitulah ucapan selamat tidur dari dia.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan