Pesona Alam Green Canyon; Mematikan Hasrat
#1Hari1PostingBlog dengan kawancut sekalian.
Ini tentang perjalanan saya beberapa waktu lalu di salah satu sudut negeri yang menyimpan sejuta pesan yang mengingatkan kita bahwasannya Indonesia ini teramat elok dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. Sebelum jalan-jalan keluar negeri, mending kalian mampir dimari deh. Di JAMIN NGGAK BAKAL NYESAL!
Green Canyon dipopulerkan oleh seorang Perancis pada tahun 1993. Nama aslinya Cukang Taneuh (kata om saya, mungkin dia juga liat di gugel)
Sebab, syukur alhamdulillah saya diberi kesempatan menginjakan kaki ditanah Jawa Barat untuk traveling dipenghujung tahun 2012. Banyak sekali tempat-tempat menarik disana, terutama di kabupaten Pangandaran. Nah untuk kali ini saya berkesempatan mengelilingi kabupaten yang baru saja resmi itu selama seminggu. Dimulai dari daerah pesirir, Pantai Timur, Pantai Batu Karas.... Batu Hiu, dan Green Canyon.
Kalau kata teman saya sih, Green itu artinya hijau. Canyon itu artinya lembah. Jadi ya, lembah hijau. FYI.
Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Kalau kemari juga harus liat musim, katanya sih air lagi bagus pas deket kemarau. Soalnya kalau musim hujan airnya jadi agak kecokelatan.
Selama ini saya hanya bisa melihat panorama keindahan wisata disana hanya di televisi, tapi kali ini SAYA BISA MERASAKAN LANGSUNG HIJAUNYA AIR DISANA!!
Hari itu saya bermalam dirumah budhe, Pondok Kenanga. Dari beberapa kenalan sebenarnya banyak sekali dari mereka yang punya niat pergi ke Green Canyon, tapi karena kelamaan mikir yaudah deh saya duluan sajalah. Berbekal kendaraan bermotor dan uang jajan pemberian sanak saudara akhirnya saya dan sepupu pergi sekitar pukul 7 pagi.
Pemandangan selama diperjalanan adalah; papan demo warga yang menutut pemerintah untuk memperbaiki jalan - foto Dedi Mizwar dan pasangannya - warga yang hilir mudik - truk pengangkut material - dan helm saya yang beberapa kali mau terbang. Berbekal kaca mata hitam buat gayaan yang kata papa untuk menghindari debu, saya lebih mirip orang buta sesat ketimbang bule -,-
Pergi traveling nggak seru dong kalau cuma berdua. Tapi bukan Anggit namanya kalau nggak SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), dengan mudahnya disana kita dapat teman baru; Teh Cici (orang Manado) Kak Aso, Pak Ato' (orang jakarta), dan yang satu lagi lupa namanya :D Disana kita kenalan dan sepakat untuk nyewa perahu dan membayar masing-masing uang masuk dan penyewaan pelampung selama berenang.
Berbekal kamera under water milik pak Ato' kita pun mulai bernarsis ria. Rupanya bapak 2 orang anak ini juga hobi travelling loh. Dia menjajal setiap pulau yang ada di Indonesia setiap akhir tahun. Selama 15 menit perjalanan kita saling bertukar cerita, menceritakan ciri khas daerah masing-masing, wisata daerah setempat dan tidak lupa biaya. Biaya akan menjadi persoalan bagi orang-orang seperti kami.
Green Canyon punya keunikan tersendiri yang memikat hati, perjalanan dengan perahu dari dermaga melewati sungai dengan air berwarna kehijauan. Awalnya sih banyak sampah ranting dan daun-daun yang gugur. Sepanjang perjalanan sesekali terlihat biawak dan penduduk yang lagi mancing atau menjala ikan. Saya juga kurang paham, di air yang hijau begitu masih ada ikan yang hidup. Semakin kedalam, kami disuguhi pemandangan sungai dengan sedikit jeram dengan alur sempit dan perahu sudah tidak bisa meneruskan perjalanan karena cadiknya yang lebar. Ngerti cadik? Itu loh, kayu sebagai penyeimbang dikanan kiri perahu. Kapasitas parkirnya juga terbatas. Disinilah petualangan dimulai...
Disini air sangat jernih hijau kebirua-biruan, dingin, memanjakan. Untuk melihat keunikan yang sesungguhnya; kita memang harus terus keatas dengan berenang. Tenang ada yang mendampingi kok. Sepanjang perjalanan, kita akan terus berada di cekungan dengan dinding terjal di kanan kiri, sebagian dinding menyerupai gua dengan atap yang mulai runtuh. Di bagian tertentu masih tersisa stalaktit dimana air resapan tanah menetes. Setelah beberapa ratus meter berenang, kita akan melihat beberapa air terjun kecil dikiri kanan. Jika kamu terus penasaran 'Ada apa diujung sana?', kita akan sampai di gua yang dihuni oleh kalelawar. Disepanjang alur ini, kita dapat berenang sepuas-puasnya.
Ini tentang perjalanan saya beberapa waktu lalu di salah satu sudut negeri yang menyimpan sejuta pesan yang mengingatkan kita bahwasannya Indonesia ini teramat elok dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. Sebelum jalan-jalan keluar negeri, mending kalian mampir dimari deh. Di JAMIN NGGAK BAKAL NYESAL!
Green Canyon dipopulerkan oleh seorang Perancis pada tahun 1993. Nama aslinya Cukang Taneuh (kata om saya, mungkin dia juga liat di gugel)
Sebab, syukur alhamdulillah saya diberi kesempatan menginjakan kaki ditanah Jawa Barat untuk traveling dipenghujung tahun 2012. Banyak sekali tempat-tempat menarik disana, terutama di kabupaten Pangandaran. Nah untuk kali ini saya berkesempatan mengelilingi kabupaten yang baru saja resmi itu selama seminggu. Dimulai dari daerah pesirir, Pantai Timur, Pantai Batu Karas.... Batu Hiu, dan Green Canyon.
Kalau kata teman saya sih, Green itu artinya hijau. Canyon itu artinya lembah. Jadi ya, lembah hijau. FYI.
Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Kalau kemari juga harus liat musim, katanya sih air lagi bagus pas deket kemarau. Soalnya kalau musim hujan airnya jadi agak kecokelatan.
Selama ini saya hanya bisa melihat panorama keindahan wisata disana hanya di televisi, tapi kali ini SAYA BISA MERASAKAN LANGSUNG HIJAUNYA AIR DISANA!!
Welcome in the jungle dear!! This is Indonesia!
Pemandangan selama diperjalanan adalah; papan demo warga yang menutut pemerintah untuk memperbaiki jalan - foto Dedi Mizwar dan pasangannya - warga yang hilir mudik - truk pengangkut material - dan helm saya yang beberapa kali mau terbang. Berbekal kaca mata hitam buat gayaan yang kata papa untuk menghindari debu, saya lebih mirip orang buta sesat ketimbang bule -,-
Pergi traveling nggak seru dong kalau cuma berdua. Tapi bukan Anggit namanya kalau nggak SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), dengan mudahnya disana kita dapat teman baru; Teh Cici (orang Manado) Kak Aso, Pak Ato' (orang jakarta), dan yang satu lagi lupa namanya :D Disana kita kenalan dan sepakat untuk nyewa perahu dan membayar masing-masing uang masuk dan penyewaan pelampung selama berenang.
Nahloh, kok kurang 1 orang -__-
Dengan pak Atok - backpacker asal Jakarta yang kameranya kita aniaya
Berbekal kamera under water milik pak Ato' kita pun mulai bernarsis ria. Rupanya bapak 2 orang anak ini juga hobi travelling loh. Dia menjajal setiap pulau yang ada di Indonesia setiap akhir tahun. Selama 15 menit perjalanan kita saling bertukar cerita, menceritakan ciri khas daerah masing-masing, wisata daerah setempat dan tidak lupa biaya. Biaya akan menjadi persoalan bagi orang-orang seperti kami.
Green Canyon punya keunikan tersendiri yang memikat hati, perjalanan dengan perahu dari dermaga melewati sungai dengan air berwarna kehijauan. Awalnya sih banyak sampah ranting dan daun-daun yang gugur. Sepanjang perjalanan sesekali terlihat biawak dan penduduk yang lagi mancing atau menjala ikan. Saya juga kurang paham, di air yang hijau begitu masih ada ikan yang hidup. Semakin kedalam, kami disuguhi pemandangan sungai dengan sedikit jeram dengan alur sempit dan perahu sudah tidak bisa meneruskan perjalanan karena cadiknya yang lebar. Ngerti cadik? Itu loh, kayu sebagai penyeimbang dikanan kiri perahu. Kapasitas parkirnya juga terbatas. Disinilah petualangan dimulai...
Disini air sangat jernih hijau kebirua-biruan, dingin, memanjakan. Untuk melihat keunikan yang sesungguhnya; kita memang harus terus keatas dengan berenang. Tenang ada yang mendampingi kok. Sepanjang perjalanan, kita akan terus berada di cekungan dengan dinding terjal di kanan kiri, sebagian dinding menyerupai gua dengan atap yang mulai runtuh. Di bagian tertentu masih tersisa stalaktit dimana air resapan tanah menetes. Setelah beberapa ratus meter berenang, kita akan melihat beberapa air terjun kecil dikiri kanan. Jika kamu terus penasaran 'Ada apa diujung sana?', kita akan sampai di gua yang dihuni oleh kalelawar. Disepanjang alur ini, kita dapat berenang sepuas-puasnya.
----
Nggak bisa berenang? Jangan khawatir, kan pakek pelampung. Takut karena arusnya deras banget? Jangan khawatir, ada bantuan tali tambang kok. Disini ketangguhan kita diuji. Berenang juga harus hati-hati, karena takut terkena dinding batu. Ada batu payung yang buat lompat, wiiih tinggi.. Adrenalin kita diuji, syuuuuuut kita lompat dengan gaya nyeleneh ala masing-masing. Pesan saya, kalau lompat ngangkangnya jangan terlalu lebar, sakit loh!
Manjat.. manjat!!
Pemandian puteri, bukan cuma buat cewek, cowok juga bisa :)
Capek berenang selama lebih dari setengah jam, akhirnya kami dijemput lagi sama perahu yang tadi mengantarkan. Karena nunggu parkir perahunya lama, kami dengan songongnya malah berenang di luar area. Alhasil bukannya tuh perahu yang ngejemput kami, tapi kami yang menjemput itu perahu -,- *balikin duit kami* Si tour guidenya cuma geleng-geleng kepala sambil bilang, "cewek-cewek sableng..."
Setelah sampai didermaga, kami berganti baju kemudian minum kopi di kedai terdekat untuk menghangatkan badan. Kami harus menyiapkan tenaga untuk pulang, karena perjalannnya juga cukup jauh.
---
Soal biaya sebaiknya bawa uang yang cukup. Karena disana nggak ada mesin ATM.
Tiket Perahu Rp.125.000,- kapasitas 6 orang (udah termasuk pelampung baju). Tempat wisata ini buka setiap hari dari jam 08.00 - 17.00, hari jumat bukanya jam 13.00 *info ini bersumber dari papan pengumuman disana*
Tentang tempat ini, saya merasa nyaman. Bisa memberikan kedamaian yang selama ini tidak pernah saya dapatkan dikota-kota besar. Yang jelas seharian saya liburan disana, banyak sekali yang saya dapat, teman baru, pengalaman baru, pacar baru, air yang masuk ketubuh pun baru, dan anehnya tetiba disini saya mendadak bisa berenang, okesip, ini aneh!
Tiket Perahu Rp.125.000,- kapasitas 6 orang (udah termasuk pelampung baju). Tempat wisata ini buka setiap hari dari jam 08.00 - 17.00, hari jumat bukanya jam 13.00 *info ini bersumber dari papan pengumuman disana*
Tentang tempat ini, saya merasa nyaman. Bisa memberikan kedamaian yang selama ini tidak pernah saya dapatkan dikota-kota besar. Yang jelas seharian saya liburan disana, banyak sekali yang saya dapat, teman baru, pengalaman baru,
Selamat tinggal Green Canyon Indonesia-ku!! Tetap bersih ya jangan dikotor-kotorin supaya aku tetap nyaman sama kamu.
kurang lengkap tanpa foto! :D
BalasHapuswaktu ke batu karas pengen mampir ke green canyon, tapi duit tidak mendukung :'
Di paragrap terakhir ada tulisan 'yang mau liat foto-fotonya bisa klik disini'... Yaudah klik aja tuh kalau mau liat :)
HapusBtw, terimakasih sudah mampir dimari, jangan kapok ya kak :)
belom sempet kesinihhh!! -_____-
BalasHapusfotonya dong biar makin lengkapp :D
Liat diparagrap terkahir kak, ada tulisan klik disini.. Nah, klik tuh :)
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbelum pernah kesana,
BalasHapuspemandian puteri boleh gak baut putra :D
Boleh, pemandian puteri juga boleh untuk putra kok.. Biar awet muda :)
HapusGreen canyon.. sering denger tapi gak pernah kesana :(
BalasHapusAku juga baru sekali kesana, sayangnya langsung jatuh cinta :)
HapusGmabaranya mana nih... :D
BalasHapusKlik disini, pada paragrap terakhir mas :)
Hapusaakkk pengen ke green canyoonnnn,,, no pic = HOAX
BalasHapusGambarnya bisa liat dipostingan sebelumnya mbak -,- Liat tuh tuh diparagraph terakhir ada tulisan klik "disini"... Ayo, klik itu!
Hapuskok ada Otan di situ? impor dari Kalbar?
BalasHapusIya, impor. Dia berangkat sendiri -,-
Hapuske green canyonn gak ngajak^
BalasHapusElo kan dipuncak waktu itu dek :3
Hapus