Selamat Tinggal SMP, Selamat Datang SMA

Tiga tahun silam, kira-kira tahun 2010 gue lulus dari Pilot Internasional Standar of Junior High School (Dih, bahasa gue, SMP tok wes). Waktu itu gue ngerasa happy banget, pasalnya gue akan segera memasuki masa terindah dalam hidup gue, SMA. 


Seperti yang sering gue tonton di ftv atau drama-drama korea. Orang yang masuk masa-masa pubertas ke dua (re: SMA) itu akan segera menemukan jodohnya, dan gue selalu berharap yang menjadi jodoh gue itu si dia. Dia yang sejak 2009 mencuri hati gue. Selain senang, gue juga sedih ninggalin masa unyu-unyu ini (re: SMP). Ini pertanda gue semakin tua, pisah sama teman-teman gue, bakal ketemu orang-orang baru, kehidupan baru, fakta baru, dan mungkin gebetan baru. Tapi apalah daya kehidupan harus dijalani dengan semestinya, gue harus terus maju untuk mencapai kehidupan klimaks. 

Tiga bulan lamanya gue jadi pengacara a.k.a pengangguran banyak acara, setiap hari kerjanya melepet dikasur, tidur paling awal bangun paling siang. Frekuensi makan gue makin banyak, tanpa diimbangi dengan kegiatan. Harusnya gue sibuk nyari sekolah, tapi gue malas, serius. Nanti ajalah H-berapa penutupan baru daftar. 
 
Dilema tingkat dewa pun menghujam perasaan gue, antara SMA, SMK, SMS, aaaaak! What the… Semuanya memberikan tawaran dengan fasilitas plus-plus. Belum lagi ada SMA A, SMA B, SMA, C dan SMA-SMA lainnya. Gue bingung harus pilih yang mana, gue merasa diperebutkan masa itu -____-


Setelah melalui beberapa tahapan pemikiran, akhirnya gue memilih melanjutkan di SMA B. Kenapa nggak di SMA A atau SMA C? Karena gue juga gak mau salah pilih tempat untuk mengukir masa-masa indahnya tiga tahun SMA yang bakal  dicertain ke anak cucu gue nanti.

Kalau katanya kakak sahabat gue, kenapa SMA itu indah? Soalnya disana lo bakal ngerasain yang namanya pulang larut malam, sukur-sukur diaterin gebetan yang punya Jaguar, ya seminim-minimnya Ninja lah. Lo bakal ngerasain sensasinya sekolah pake rok selutut, untung-untung bisa lo pendekin lagi, karena makin pendek rok sekolah itu artinya lo semakin gaul dan lo bakal jadi cewek popular disekolah. Lo bebas pakai baju seksi kaya apapun, lo bakal terlihat lebih cantik sebab di SMA nanti tubuh lo akan segera ‘membentuk’. Lo bakal ketemu banyak cowok cakep, lo bebas mau gebetin yang mana. Misalnya lo naksir sama si A, tapi lo sering jalan sama si C, lo juga sering BBM atau sekedar ngobrol-ngobrol ringan sama si B, trus mimpiin si D. Nah, itu bebas nggak bakal ada yang ngelarang. Walaupun akhirnya kita nggak tau siapa yang jadi pacar kita, si A, B, C, atau D kah? Semua itu hanya rahasia Illahi.


Dari sekian banyak alasan yang diutarakan kakaknya sahabat gue itu yang bikin gue ngiler masuk SMA adalah, dimana gue bakal ketemu cowok cakep, asyik.

H-3 penutupan pendaftaran SMA. Hari itu gue diantar sama anaknya temen nyokap ke calon sekolah gue. Sebelum pergi tentunya gue mandi dan sibuk nyari baju. Liburan tiga bulan buat badan gue makin melar, baju gue pada nggak muat, gue bingung, terpaksa minjam baju tetangga, serius gue mintam baju tetangga hari itu :(

Sesampai di calon sekolah baru gue terdiam didepan pintu koperasi, gue harus beli formulir pendaftaran dan map harganya 25.000 gue shock. Kalau di toko fotokopi depan kompeks gue map kayak begitu harganya cuma 3.000 dan formulir pendaftaran itu hanyalah selembar kertas yang diprint selembar lalu diperbanyak.  Gue ngisi data dengan teliti, gue serahin data-data itu ke panitia penerimaan siswa baru. Lalu mereka bilang, “Silahkan liat urutannya di monitor depan”. 

Tanpa mempedulikan kata-kata ibu panitia tadi gue langsung pulang, sesampai dirumah gue langsung tidur. Gue nggak mau menyia-nyiakan masa liburan gue yang tinggal berapa hari lagi. Masa liburan gue manfaatkan dengan sangat professional, gue nonton banyak film remaja, ftv-ftv seputar kehidupan remaja, dan gue juga udah banyak nyewa novel tentang kehidupan cinta para remaja. Disini gue berharap tau bagaimana caranya menjawab kalau-kalau suatu hari nanti akan ada cowok yang nembak gue.
H-1 penutupan pendaftaran SMA. Bokap nanya ke gue, “Nggak ngeliat nilai? Siapa tau nggak keterima di SMA itu, gimana?” Gue jawab pertanyaan bokap dengan santai, “Besok ajalah.” Dan bokap pun hanya geleng-geleng melihat tingkah putri sulungnya yang imut ini. 

Ditengah indahnya mimpi disiang bolong, tiba-tiba handphone gue bunyi ada sms masuk dari salah seorang sahabat.

Loh, kok nggak daftar di SMA A? Kita semua pada daftar disana.
Kamu sendiri aja tuh yang misah

Apalah artinya kita sekolah kalau hanya untuk ikut-ikutan teman. Apa kalau teman masuk got kita juga ngikut? Nggak kan? Kita punya masa depan masing-masing yang harus kita jalani dengan cara masing-masing. Gue pun nggak balas sms itu, gue hanya tersenyum malaikat dan kembali melanjutkan bobo canti.

Hari pengumuman tiba, harusnya pagi-pagi sekali gue udah harus siap ke calon sekolah gue itu. Tapi karna gue orangnya santai dan tenang, jam 9 gue baru bangun dan bokap ngomel habis-habisan. Nyokap hanya senyum-senyum mesem. 

Jam 11.30, Penerimaan siswa baru resmi di tutup. Gue liat nama gue ada di deretan nama-nama siswa yang diterima bersama 200 orang lainnya yang akan menjadi teman baru gue. Ini berarti kerasnya kehidupan SMA akan segera gue lakoni dan ini juga pertanda liburan akan segera usai.
Lusa, perjalanan itu akan segera dimulai…

Masih ada waktu satu hari liburan, gue memutuskan untuk beres-beres kamar. Disinilah proses itu dimulai. Ketika gue berbenah lemari, gue menemukan setumpuk jilbab yang kalau dibuang sayang. Gue bingung mau dikemanain. Lagian ini punya siapa coba.
 
Akhirnya gue coba-coba makai jilbab itu, aduh berasa makin cantik ya. Secepat kilat bahkan lebih cepat, sekencang angin tornado bahkan lebih kencang, sekuat tali tambang kapal bahkan lebih kuat. Tiba-tiba pengen pakai jilbab! 

Tapi kalau besok gue langsung pakai jilbab apa nggak keliatan aneh ya? Seragam SMP gue lengannya pendek, roknya juga pendek, masa gue harus pakai kaos kaki yang panjangnya sepaha, trus baju gue juga tambal sana sini. Malu ah, ntar dikira gembel simpang kota. Gue bingung setengah mampus. Kenapa sih keinginan ini muncul mendadak, disaat gue berpikiran untuk mendekin rok seragam gue nantinya… Memang Tuhan tak mengizinkan perbuatan maksiat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan