Salzburg; Mengunjungi Tanah Kelahiran Mozart
Salzburg, sebuah kota tua yang terletak ditepian sungai Salzach di bagian utara pegunungan Alpen. Dulu, kota ini pernah menjadi setting untuk film The Sounds of Music, selain itu, seorang komponis terkenal bernama Wolfgang Amadeus Mozart lahir dan dibesarkan dikota ini.
Semuanya berawal dari rasa bosan yang melanda setiap weekend, bilang aja kesepian. Pagi-pagi sekali saya berangkat dari Munich menuju Salzburg dengan menggunakan flixbus seharga 16 Euro (hin und zuruck) dan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Setiba di stasiun (Salzburg Hauptbahnhof) hal pertama dan selalu saya cari adalah city map gratisan. Nah, berikut adalah tempat-tempat yang sempat saya kunjungi di Salzburg. Untuk menjangkaunya, kita bisa membeli day ticket seharga 4 Euro, tapi saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Alasannya; ini adalah cara saya untuk menikmati sebuah perjalanan.
Mirabell Palace
Sebuah tempat yang penuh history, terdiri dari sebuah istana dan taman yang sangat indah. Musim semi adalah waktu terbaik untuk menikmati tempat ini, kita akan disuguhkan dengan taman yang indah. Sayang, saat itu sudah memasuki musim gugur, hanya dedauanan gugur yang ada. Tapi cuaca yang tidak terlalu dingin, pengunjung yang tidak terlalu ramai, dan alunan musik klasik membuat saya merasa betah berlama-lama disini. Sempurna.
| Mirabell Garten |
Mozart Wohnhaus (Rumah Tinggal Mozart)
Ini adalah tempat tinggal selama delapan tahun sebelum akhirnya ia pindah secara permanen ke Wien, Austria pada 1781. Bangunan ini sebenarnya hasil rekonstruksi ulang, sebagian besar bangunan aslinya sudah hancur pada perang dunia kedua. Saat ini sudah difungsikan sebagai museum, kita perlu membayar 10 Euro untuk dewasa. Info lebih jelas, silahkan baca ini Mozart Wohnhaus.
| Mozart Wohnhaus |
Dirumah inilah seorang komponis dunia dilahirkan, disebuah rumah sederhana pada 27 Januari 1756. Menjadi salah satu museum yang paling banyak dikunjungi, karena disini pengunjung bisa melihat secara rinci tentang kehidupan Mozart pada masa itu. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai, dilantai pertama kita bisa melihat kehidupan sehari-hari Mozart dan keluarganya, dilantai kedua didedikasikan untuk pameran karya-karya opera Mozart, sedangkan dilantai ketiga kita bisa melihat biola masa kecilnya.
| Mozart Geburthaus |
Sungai Salzach
Membelah sebuah kota menjadi dua bagian, kota tua dan kota modern. Ada jembatan yang dihiasi gembok cinta dikanan kirinya, menjadi satu objek yang tidak boleh terlewatkan untuk di abadikan. Sejumlah kursi panjang berjejer dipinggiran sungai, rasanya tepat sekali untuk melepas lelah setelah berjalan seharian.
| Love Bridge in Salzburg |
| Goldene Kugel |
Adalah sebuah karya seni Stephan Balkenhol yang telah berdiri sejak tahun 2007. Terdiri dari dua ton bola dengan diameter lima meter yang berlapis emas, katanya. Diatasnya terdapat perunggu sosok laki-laki dengan celana hitam dan kemeja putih. Disini adalah pusat nongkrongnya orang-orang Salzburg.
Altstadt Salzburg (Kota Tua)
Sebagaimana kebanyakan kota tua di eropa, desainnya klasik dan unik. Kerennya lagi, keasliannya selalu dipertahankan dari masa kemasa, bahkan telah terdaftar sebagai situs kebudayaan dunia oleh UNESCO pada tahun 1997. Dikanan kirinya terdapat banyak gang-gang kecil, mirip di Indonesia lah ya, hehe. Puas berjalan kaki disini, saatnya menuju Hohensalzburg.
| Altstadt Salzburg |
Hohensalzburg
Sebuah landmark kota Salzburg, disebut pula benteng abadi, di bukit tertinggi kota Salzburg. Didirikan pada tahun 1077 dan baru selesai pada tahun 1681. Ada yang berpendapat bahwa ini adalah benteng terbesar didaratan Eropa Tengah. Untuk menjangkaunya bisa menggunakan kereta listrik sekitar 11 Euro per orang, sekali lagi saya lebih memilih untuk berjalan kaki menapaki anak tangga sambil bernyanyi riang.
| Festung Hohensalzburg |
Sebelum kembali ke Munich, saya menyempatkan diri untuk mengelilingi pusat perbelanjaan disekitar stasiun sambil menunggu datangnya bus. Kebetulan hari itu banyak sekali pengungsi yang datang, sebetulnya mereka hanya transit karena tujuan mereka adalah Munich. Nah, loh kok sama ya kayak saya? Sempat ada kejadian ketika saya ingin melihat jadwal kedatang bus, seseorang menghampiri saya, beliau dengan lantang berbicara entah dalam bahasa apa. Saya hanya tercengang, ternyata saya dikira pengungsi yang memisahkan diri dari rombongan. Cobaan kedua datang lagi, ketika sampai diperbatasan Austria-Jerman, bus kami diberhentikan oleh polisi. Seorang polisi meminta passport saya, kemudian ia berdiskusi dengan temannya sambil menatap sinis kearah saya. Merasa risih, akhirnya saya keluarkan kartu identitas Jerman. Akhirnya mereka pun terdiam dan mengembalikan passport dengan wajah dingin. Saya pun memasang wajah penuh kemenangan.
World is too big, Kommt raus!
Komentar
Posting Komentar