Kesempurnaan Batin
12 April 2012, Jumat.
Hari ini kami berkunjung ke panti asuhan sekaligus pesantren dalam rangka merayakan khatamul quran. Letaknya di ujung aspal (kagak tau namanya) jalan Purnama 2, perbatasan aspal dan tanah merah. Jujur aja, saya prihatin dengan kondisi panti asuhan sekaligus pesantren itu. Muridnya banyak sampai 150an orang tapi mereka gak punya donatur. Gak ada air PDAM, mereka hanya mengandalkan sumur. Kalau lama gak hujan dan persediaan air habis mereka terpaksa minum air parit. Bersih sih paritnya, soalnya saya juga pernah minum air diparit itu waktu ada kegiatan alam. Mereka gak punya orang tua, mereka gak pernah ke mol, mereka gak pernah shopping, mereka gak punya hp, apalagi tab, smartphone, blackberry, lumia -,-
Panti itu bukan milik lembaga, melainkan
milik perorangan. Nah, pemilik panti tersebut alumni sekolah saya juga.
Dia dibantu teman-temannyalah dalam mengembangkan panti sekaligus
pesantren itu. Saya salut sama bapak itu. Hebat. Dia berhasil mendidik
anak-anak panti, menurut informasi sudah ada 3 orang penghapal alquran
dari panti itu. Keren.
Yang membuat saya hampir meneteskan air mata adalah ucapan si bapak empunya panti, "Kalau adik-adik sih enak ya, sakit di sentuh mamanya langsung sembuh. Mereka disini gak punya orang tua, gak pernah dimanja-manja. Mereka harus berjuang untuk hidupnya." Saya sempat merenung, dan benar kata bapak itu.
Lagi, "Adik-adik masih bisa makan di mol, lebaran pakai baju baru, ngerjain pr tinggal buka internet selesai, kalau lagi bosan dirumah tinggal bilang sama mama papanya mau liburan ke mana, dalam negeri atau luar negeri. Cobalah adik-adik liat mereka..."
"Mereka bukannya gak mau hidup seperti adik-adik. Hanya saja takdir mereka yang seperti ini, adik-adik sangat beruntung. perbanyaklah bersyukur masih punya papa mama, masih ngerasain dipeluk, dicium." Air mata saya benar-benar mengalir deras setelah ucapan ketiga dari bapak itu.
Melihat mereka mengantri untuk mendapatkan makanan, saya merasa berdosa. Seringkali saya mencela makanan yang saya tidak suka. Gak bersyukur dengan masakan rumah dan lebih memilih untuk makan di mol. Saya masih merasakan kasur empuk, hangatnya selimut tebal, dinginnya AC, sedangkan mereka harus tidur tanpa alas bahkan bantal, tak ada kain yang bisa menutupi tubuh mereka dari dinginnya malam, tak ada yang bisa memeluk mereka selain diri mereka sendiri. Kalau saya sakit tinggal mengadu ke mama dan mama akan segera mencarikan obat yang terbaik untuk saya. Sedangkan mereka harus menahan sakitnya sendiri, mengadu itu percuma, tak ada gunanya bagi mereka.
Kebahagiaan saya bertambah, ketika kami mulai berdoa bersama, menikmati
hidangan seadanya, dan kami juga sempat berfoto. Berbagi bersama mereka, melihat mereka tertawa. Mereka membuat saya sadar, betapa berlimpahnya kasih sayang dan nikmat yang saya dapat tapi saya belum menyadarinya. Saya kurang bersyukur atas kehidupan saya selama enam belas tahun ini. Cinta yang saya dapatkan selama ini sangat luar biasa, tak seperti apa yang mereka rasakan. Tidak semua dari mereka pernah bertemu dengan orang tuanya.
Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan orang tua,
bahkan untuk diri saya sendiri. Tapi mereka tahu bagaimana caranya untuk
membahagiakan batin saya hari ini.
Komentar
Posting Komentar