Abang VS Elang
Mengenalmu bukanlah mimpi, apalagi membayangkan sosokmu tak pernah sekalipun terbesit dalam benakku. Apapun tentangmu, tak pernah sedikitpun aku pelajari. Namun, aku belajar banyak tentang ilmu kimia disekolah, dari situlah aku tahu sedikit tentangmu. Ya, sedikit. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Tak pernah ada kaitannya antara senyawa senyawa kimia dengan dirimu, tapi tahukan kamu? Sebentar saja mengenalmu aku sudah begitu mencintai kimia. Kamu membuat segalanya berubah. Membuatku lebih akrab dengan tata nama atom hidrogen.
Hari itu kita berkenalan melalui sebuah komunitas. Detik menjadi menit, menit bersatu menjadi jam, jam berubah hari, hari pun berganti minggu, minggu berkumpul menjadi bulan. Kita semakin sering berbagi sapa, bertukar cerita, dan mungkin saling pamer gebetan. Seringkali aku dihadapkan pada suatu kondisi dimana kita harus bertemu, namun sebisa mungkin aku menghindar. Aku takut, takut menjadi mangsa yang akan kamu jadikan makanan untuk elang peliharaanmu. Seiring bergulirnya waktu komunikasi pun semakin laancar, tapi masih seputar dunia maya.
Hingga pada suatu hari lama kamu tak memberikan kabar. Bukan aku merindu, hanya seperti ada yang berbeda. Angin berhembus lembut menerbangkan salah satu sisi jilbabku, bukan debu dan sendu yang terbawa melainkan namamu. Seketika aku teringat padamu yang entah sedang apa. Aku tidak sedang memikirkanmu, aku hanya sedang menatap layar putih bergoreskan peta konsep yang ada dihadapanku, dengan seorang tentor yang masih saja berkicau sejak tiga jam tadi. Ahh, aku mulai bosan.
Ada yang bergetar dari dalam tasku, apa itu? Handphone ya handphoneku tidak ku matikan. Aku membukan tas, mengambil handphone yang bergetar tadi, lalu membukan gemboknya dengan sebongkah kunci serep yang aku miliki, kemudian ada namamu di sebuah layar imut. Aku membaca secepat sambaran kilat, sms darimu lumayan menyemangati aku. Bukan menyemangati untuk menempuh ujian, tapi menyemangati untuk rajin semakin rajin menulis.

Komentar
Posting Komentar