Diam itu Milikku
Dalam diam aku masih mengagumimu mungkin lebih bisa jadi itu cinta, dalam doaku masih selalu menyebut namamu, dalam setiap ingatan masih sering terputar memori indah tentangmu, dan dalam setiap hembusan nafasku selalu ada dirimu.
Aku memang lebih memilih tertawa, karena aku sedang tak ingin bercerita mengapa aku bersedih. Ada sebab mengapa aku tak ingin terlihat sedih. Meskipun aku tahu air mata adalah cara bagaimana agar mata berbicara ketika bibir ini sudah tak mampu untuk berbicara. Tetesan itu harusnya sangat bermakna bukan tanpa makna.
Jika saling mencintai itu indah, aku mau. Tapi bukankah mencintai itu bukan jaminan untuk bahagia? Bagaimana dengan perhatian, kasih sayang, dan ketulusan?
Apa itu hanya gurauan darimu selama ini? Mungkin cinta ini tak terbalas, mungkin cinta ini tak pernah ada ujungnya, mungkin cinta ini perjuangan, mungkin cinta ini pengorbanan, mungkin juga cinta ini palsu. Entahlah, aku tak tahu jenis yang mana.
Aku menangis dalam tawaku, rupanya diam-diam kamu memilikinya, padahal kamu tau aku diam menunggumu. Menunggu memang bukanlah hal mudah, kamu tahu itu. Tapi kenapa kita sama-sama menunggu untuk hal yang berbeda. Kau tahu? Sakit.
Jika diizinkan aku ingin mengulanginya, menjadi seperti semula yang bodoh tah tahu apa-apa tentangmu, yang hanya melihatmu dari kejauhan, menikmati aroma khasmu itu, yang hanya bisa diam.
Rupanya itu kamu, yang menyakiti meski sudah dicintai.
Jika saling mencintai itu indah, aku mau. Tapi bukankah mencintai itu bukan jaminan untuk bahagia? Bagaimana dengan perhatian, kasih sayang, dan ketulusan?
Apa itu hanya gurauan darimu selama ini? Mungkin cinta ini tak terbalas, mungkin cinta ini tak pernah ada ujungnya, mungkin cinta ini perjuangan, mungkin cinta ini pengorbanan, mungkin juga cinta ini palsu. Entahlah, aku tak tahu jenis yang mana.
Aku menangis dalam tawaku, rupanya diam-diam kamu memilikinya, padahal kamu tau aku diam menunggumu. Menunggu memang bukanlah hal mudah, kamu tahu itu. Tapi kenapa kita sama-sama menunggu untuk hal yang berbeda. Kau tahu? Sakit.
Jika diizinkan aku ingin mengulanginya, menjadi seperti semula yang bodoh tah tahu apa-apa tentangmu, yang hanya melihatmu dari kejauhan, menikmati aroma khasmu itu, yang hanya bisa diam.
Rupanya itu kamu, yang menyakiti meski sudah dicintai.
Komentar
Posting Komentar