Hadiah dari Erlangga

Pagi ini masih seperti pagi biasanya. Pagi bagi seorang pengangguran tingkat kacamata Syahrini adalah fase dimana kita akan menunggu siang, lalu pergi menikmati senja, dan ketika mentari berganti rembulan kita kembali memejamkan mata. Suara deru knalpot motor mulai berlomba, mentari sudah cukup tinggi dan sangat bersemangat pagi ini, kokok ayam sudah tak terdengar lagi, tapi ada yang jelas dalam pendengaranku "JNE!!!! Permisi!!!!" Dengan langkah gontai dan rambut acak-acakan aku berjalan menuju sebuah pintu tua yang masih tampak kokoh. "Iya, sebentar!" jawab ku dari dalam rumah. Mata ini masih samar-samar melihat benda disekeliling sehingga untuk mencari gembok saja aku kesusahan. "Bentar mas, lagi cari kunci!!" teriakku dari dalam kamar. 

Tiba-tiba terdengar pekikan keras dari kamar kost atas, "Janggi, buaruan noh ada abang JNE!" Itu pasti suara mbak Lidya yang tak lain mahasiswa abadi di universitasnya. Nah, mataku beradu pada sebuah benda yang terkulai lemah tak berdaya, kunci. Secepat sambaran ombak di pantai Senggigih aku membukakan pintu. Bukan aku terkesima dengan sebuah paket yang dipegang abang JNE itu, melainkan terkesima pada sosok abang JNE yang bisa dibilang terlalu ganteng untuk menjadi seorang kurir barang. Namun, pada akhirnya lagi-lagi aku disadarkan dengan suara itu... "Mba Janggi tanda tangan disini" katanya sambil menyerahkan paket itu. Kegiatan itu tak berlangsung lama, lalu abang JNE itu pun pergi dengan motor tuanya. 

Aku kembali ke kamar, kembali memeluk guling dengan mesra, semesra mentari membalut bumi. Berusaha memejamkan mata. Namun, apa daya. Paket kecil itu seolah memkasaku untuk segera membuka isinya. "Pasti isinya buku" batinku. Rasa malas ini berhasil aku kalahkan. Ku raih paket kecil itu, warna bungkusnya cantik, dan tertera namaku disana. Aku membukanya, dan ternyata benar isinya sebuah buku yang sudah lama ingin ku beli. Aku bersorak riang, meskipun seorang diri tapi suara ku ini cukup membuat gaduh, sehingga terdengarlah teriakan dari kamar sebelah, "Wooooy, berisiiiik!! Jangan ganggu hubungan gue dengan kasur!" Huft, ya sudahlah. Rupanya masih ada yang berintim ria dengan kasurnya.
Tak perlu berlama, lama langsung saja ku ambil handphone manisku. Mengambil beberapa gambar, dan beginilah hasilnya.....


Ini bukan fiksi, ini nyata. Seperti mimpi di pagi hari. Terimakasih Erlangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Kuliner Populer di Pontianak

Kilas Balik Kehidupan SMA

#MimpiKawancut : Ketika Mimpi Jadi Kenyataan